Print this page
Friday, 14 December 2018 14:21 Read 300 times

KANKER PAYUDARA

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Pada tahun 2017, di amerika tercatat 252.710 orang wanita dan 2470 orang laki-laki di diagnosis kanker payudara invasive. Dan terdapat 63.410 kasus baru kanker payudara satadium 1 pada wanita. Kanker payudara paling banyak terjadi pada wanita.

 

Kejadian kanker payudara di Indonesia mencapai sekitar 40 kasus setiap 100.000 penduduk pada tahun 2012, menurut data di organisasi kesehatan dunia (WHO). Dibandingkan dengan negara Malaysia, kanker payudara di Indonesia lebih banyak diderita oleh wanita usia muda dan pada tahap yang lebih lanjut.

Kanker payudara tidak hanya menyerang kaum wanita tapi juga pria walaupun jarang.

Kanker payudara umumnya terbagi dalam dua kategori, yaitu non-invasif dan invasif. 

Kanker payudara invasif

Bentuk paling umum dari kanker payudara invasif adalah kanker payudara duktal invasif yang berkembang pada sel-sel pembentuk saluran payudara. Kata invasif berarti kanker ini dapat menyebar di luar payudara. Sekitar 80 persen dari semua kasus kanker payudara invasif merupakan jenis semacam ini.

Jenis kanker payudara invasif lain meliputi:

Kanker payudara lobular invasif. Penyakit ini berkembang pada kelenjar penghasil susu yang disebut lobulus.

Kanker payudara terinflamasi.

Kanker Paget pada payudara.

Jenis-jenis kanker ini juga dikenal sebagai kanker payudara sekunder atau metastasis. Jenis ini dapat menyebar ke bagian lain tubuh. Penyebarannya biasanya melalui kelenjar getah bening (kelenjar kecil yang menyaring bakteri dari tubuh) atau aliran darah.

Kanker payudara non-invasif

Bentuk kanker non-invasif biasanya ditemukan melalui mamografi karena jarang menimbulkan benjolan. Jenis ini juga sering disebut pra kanker. Tipe yang paling umum dari kanker ini adalah duktal karsinoma in situ. Jenis kanker payudara ini bersifat jinak dan ditemukan dalam saluran (duktus) payudara, serta belum menyebar.

 

Pemeriksaan Payudara dan Genetika

Penyebab kanker payudara yang utama belum diketahui. Karena itu, pencegahan sepenuhnya untuk kanker payudara juga sulit ditentukan. Banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker, misalnya usia dan riwayat kesehatan keluarga.

Pemeriksaan payudara dan genetika dianjurkan untuk wanita dengan kemungkinan terkena kanker payudara melebihi rata-rata. Risiko kanker payudara meningkat seiring usia, maka wanita berusia 50-70 tahun dianjurkan memeriksakan diri setiap tiga tahun sekali. Wanita berusia 70 tahun ke atas juga dianjurkan untuk memeriksakan diri dan berkonsultasi dengan dokter.

 

Tanda dan gejala kanker payudara

Gejala paling sering adanya benjolan dan gumpalan di payudara. Adanya penebalan, pembengkakan, distorsi, nyeri, iritasi kulit, kemerahan / redness, scaliness ( lapisan yang menutupi kulit), putting yang abnormal atau mengeluarkan cairan seperti susu atau cairan jernih secara spontan. Penjelasannya antara lain :

-Adanya benjolan atau kulit yang menebal pada payudara merupakan indikasi pertama kanker payudara. Meski demikian, sekitar 9 dari 10 benjolan yang muncul bukanlah disebabkan oleh kanker. Terdapat gejala yang lain seperti rasa sakit pada payudara atau ketiak yang tidak berhubungan dengan siklus menstruasi.

-Keluarnya cairan dari puting (biasanya disertai darah) juga perlu diwaspadai. Beberapa gejala lainnya adalah perubahan ukuran pada salah satu atau kedua payudara, perubahan bentuk puting, serta kulit payudara yang mengerut.

-Gatal-gatal dan muncul ruam di sekitar puting. Pada bagian ketiak, bisa juga muncul benjolan atau pembengkakan. 

Faktor resiko terjadinya kanker payudara :

1.Terapi hormone jangka panjang untuk jaringan payudara. Risiko terkena kanker payudara akan sedikit meningkat akibat tingkat paparan terhadap estrogen dalam tubuh. Contoh:

a.Jika Anda tidak memiliki keturunan atau melahirkan di usia lanjut. Hal ini akan meningkatkan risiko kanker payudara karena paparan terhadap estrogen tidak terhalang oleh proses kehamilan.

b.Jika Anda mengalami masa menstruasi yang lebih lama (misalnya, mulai menstruasi sebelum usia 12 tahun atau mengalami menopause setelah usia 55 tahun).

2.Berat badan yang bertambah pada usia  > 18 tahun  atau obesitas. 

Kelebihan berat badan setelah menopause dapat menyebabkan peningkatan produksi estrogen sehingga risiko kanker payudara akan meningkat.

3.Terapi hormone untuk post menopause ( estrogen dan progestin)

Terapi penggantian hormon kombinasi memiliki risiko sedikit lebih tinggi daripada terapi penggantian hormon estrogen. Tetapi keduanya tetap dapat mempertinggi risiko terkena kanker payudara. Di antara 1.000 wanita yang menjalani terapi hormon kombinasi selama 10 tahun, diperkirakan akan ada 19 kasus kanker payudara lebih banyak dibanding kelompok wanita yang tidak pernah menerima terapi hormon. Risiko ini juga akan meningkat seiring durasi terapi, tapi akan kembali normal setelah Anda berhenti menjalaninya.

4.Tidak olah raga atau kurang aktivitas

5.Konsumsi alcohol

6.Perokok berat dan jangka panjang ( sebelum hamil anak pertama)

7.Setelah melahirkan namun tidak mau menyusui

Faktor- faktor yang tidak dapat diubah yang meningkatkan resiko kanker :

1.Usia lanjut, 87% dari total yang terkena kanker di Amerika Serikat adalah usia 50 tahun keatas. Seiring bertambahnya usia, risiko kanker juga akan meningkat. Kanker payudara umumnya terjadi pada wanita berusia di atas 50 tahun yang sudah mengalami menopause. Sekitar 80 persen kasus kanker payudara terjadi pada wanita berusia di atas 50 tahun.

2.Riwayat kanker payudara dan ovarium dalam keluarga

Jika Anda memiliki keluarga inti (misalnya, ibu, kakak, adik atau anak) yang mengidap kanker payudara atau ovarium, risiko Anda untuk terkena kanker payudara akan meningkat. Tetapi kanker payudara mungkin juga muncul lebih dari sekali dalam satu keluarga secara kebetulan.

3.Mutasi genetic dalam BRCA1, BRCA2 atau gen yang rentan terjadi kanker payudara.

Umumnya kasus kanker payudara bukan dikarenakan faktor keturunan (hereditas), tetapi mutasi gen tertentu yang dikenal dengan nama BRCA1 dan BRCA2 dapat mempertinggi risiko kanker payudara dan kanker ovarium. Jenis kanker ini juga mungkin diturunkan orang tua kepada anak.

4.Mengalami tumor jinak payudara ( misalnya hyperplasia). Memiliki benjolan jinak bukan berarti mengidap kanker payudara, tetapi benjolan tertentu mungkin bisa meningkatkan risiko. Perubahan kecil pada jaringan payudara, seperti pertumbuhan sel yang tidak lazim dalam saluran atau lobulus, bisa meningkatkan risiko untuk terkena kanker payudara.

5.Riwayat kanker sebelumnya ( ductal atau lobular carcinoma insitu)

Jika pernah mengidap kanker payudara atau terjadi perubahan sifat sel kanker non-invasif yang terkandung di dalam saluran payudara menjadi sel kanker invasif, seseorang dapat kembali terkena kanker pada payudara yang sama atau pada payudara satunya.

6.Terpapar radiasi tinggi di bagian dada saat usia muda ( pada pengobatan lymphoma)

7.Densitas jaringan payudara yang tinggi ( pemeriksaan mammogram : perbandingan atar jaringan lemak dan jaringan  

Deteksi dini kanker payudara

Jika menemukan benjolan pada payudara Anda, dokter akan menganjurkan beberapa prosedur untuk memastikan apakah Anda menderita kanker payudara atau tidak.

  • Mamografi. Pemeriksaan dengan mamografi umumnya digunakan untuk mendeteksi keberadaan kanker.
  • Mammografi merupakan tindakan yang menggunakan sinar X dosis rendah untuk mendeteksi kanker payudara tahap dini. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa deteksi menggunakan mammografi dapat menyelamatkan hidup, namun seperti alat lain mammografi juga mempunyai kekurangan. Seperti pemeriksaan pada perempuan yang memiliki payudara yang padat, sering luput dari kanker. 
  • Bagi wanita dengan resiko kanker, direkomendasikan untuk pemeriksaan berkala setahun sekali pada umur 40-44 th, pada usia 45-54 th setiap tahun, 55 th ke atas 2 tahun sekali. Untuk wanita dengan resiko tinggi kanker payudara dianjurkan untuk melakukan MRI mulai dari usia 30 thn.
  • USG. Jenis pemeriksaan ini digunakan untuk memastikan apakah benjolan pada payudara berbentuk padat atau mengandung cairan.
  • Biopsi. Pemeriksaan ini meliputi proses pengambilan sampel sel-sel payudara dan mengujinya untuk mengetahui apakah sel-sel tersebut bersifat kanker. Melalui prosedur ini, sampel biopsi juga akan diteliti untuk mengetahui jenis sel payudara yang terkena kanker, keganasannya serta reaksinya terhadap hormon.

 

Saat didiagnosis positif mengidap kanker, Diperlukan sejumlah pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui stadium dan tingkat penyebaran kanker. Di antaranya:

  • MRI dan CT scan.
  • Rontgen dada.
  • Pemeriksaan tulanguntuk mengecek apakah kanker sudah menyebar ke tulang.
  • Biopsi kelenjar getah bening (noda limfa) di ketiak. Jika terjadi penyebaran kanker, kelenjar getah bening pertama yang akan terinfeksi adalah noda limfa sentinel.Lokasinya bervariasi jadi perlu diidentifikasikan dengan kombinasi isotop radioaktif dan tinta biru.
  • Stadium Kanker Payudara

Stadium menjelaskan ukuran kanker dan tingkat penyebarannya. Kanker payudara duktal non-invasif terkadang digambarkan sebagai Stadium 0. Stadium lainnya menjelaskan perkembangan kanker payudara invasif. Dokter akan menentukan stadium kanker setelah Anda didiagnosis positif terkena kanker.

Pada stadium 1

Ukuran tumor kurang dari 2 cm. Tumor tidak menyebar ke kelenjar getah bening di ketiak dan tidak ada tanda-tanda penyebaran kanker ke bagian lain tubuh.

Pada stadium 2

Ukuran tumor 2-5 cm atau tidak ada penyebaran ke kelenjar getah bening, atau keduanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa kanker sudah menyebar ke bagian lain tubuh.

Pada stadium 3

Ukuran tumor 2-5 cm. Tumor mungkin menempel pada kulit atau jaringan di sekitar payudara. Kelenjar getah bening di ketiak terinfeksi, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa kanker sudah menyebar ke bagian lain tubuh.

 

Pada stadium 4

Tumor dengan segala ukuran dan sudah menyebar ke bagian lain tubuh (metastasis).

 

Pencegahan kanker payudara

Pencegahan secara total untuk kanker payudara sulit diketahui karena penyebab kanker ini belum diketahui dengan pasti. Tetapi ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk menurunkan risiko kanker payudara.

Langkah utamanya adalah dengan menerapkan gaya hidup yang sehat. Misalnya mengurangi konsumsi makanan berlemak, menjaga berat badan yang sehat dan ideal, teratur berolahraga, serta membatasi konsumsi alkohol. Cara-cara tersebut tidak hanya bisa menurunkan risiko kanker payudara, tapi juga mencegah berbagai penyakit lain.

Selain gaya hidup, penelitian juga menunjukkan bahwa wanita yang pernah menyusui memiliki risiko lebih rendah untuk terkena kanker payudara. Hal ini mungkin terjadi karena masa ovulasi mereka menjadi tidak rutin saat sedang menyusui sehingga tingkat estrogen tetap stabil.