YKKI
10 Tahun YKKI

YKKI.ORG

Melayani, menguatkan, dan berjalan bersama pasien kanker.

Memuat...
Skip to content
Home Program Donasi Tentang
kesehatan

Makanan Ultraolahan dan Risiko Kanker Usus di Usia Muda: Apa Kata Penelitian?

Y
YKKI
1 dilihat
Makanan Ultraolahan dan Risiko Kanker Usus di Usia Muda: Apa Kata Penelitian?

pola makan tinggi makanan ultraolahan mulai dikaitkan dengan perubahan prakanker pada usus

Mi instan saat lembur, sosis untuk sarapan, minuman manis kemasan saat perjalanan, lalu keripik atau biskuit untuk menemani scrolling.

Bagi banyak orang, makanan seperti ini bukan lagi sekadar selingan, tetapi sudah menjadi bagian dari pola makan sehari-hari.

Pada saat yang sama, dunia medis sedang memperhatikan fenomena lain: kanker kolorektal atau kanker usus besar dan rektum semakin sering ditemukan pada usia yang lebih muda di sejumlah negara.

WHO pada 2026 menyebut kanker kolorektal masih paling banyak terjadi pada usia di atas 50 tahun, tetapi bebannya meningkat pada kelompok usia 30–50 tahun di beberapa wilayah.

Apakah makanan ultraolahan ikut berperan?
Bukti ilmiahnya mulai bertambah, tetapi belum cukup untuk mengatakan bahwa makanan ultraolahan merupakan penyebab utama kanker usus pada usia muda.

Apa yang Dimaksud Makanan Ultraolahan?


Tidak semua makanan yang diproses merupakan makanan ultraolahan.

Beras yang digiling, susu pasteurisasi, sayuran beku, tahu, atau tempe juga mengalami proses pengolahan.

Istilah ultra-processed food atau UPF digunakan untuk produk yang umumnya dibuat melalui berbagai tahap industri dan sering mengandung bahan hasil pemurnian serta zat tambahan untuk membentuk rasa, warna, tekstur, atau daya simpan.

Contohnya dapat mencakup sebagian minuman berpemanis, makanan ringan kemasan, mi atau makanan siap saji tertentu, sereal manis, biskuit, nugget, dan berbagai produk siap makan.

Namun, tidak semua makanan kemasan otomatis termasuk UPF, dan keberadaan bahan tambahan pangan juga tidak berarti suatu makanan otomatis menyebabkan kanker.

Penelitian Terbaru Menemukan Sinyal yang Menarik


Salah satu penelitian yang mendapat perhatian diterbitkan di JAMA Oncology dan melibatkan 29.105 perempuan di Amerika Serikat yang menjalani pemeriksaan endoskopi sebelum usia 50 tahun.

Perempuan dengan konsumsi UPF tertinggi ditemukan mempunyai 45% odds lebih tinggi mengalami adenoma kolorektal konvensional usia muda dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah.

Adenoma adalah salah satu jenis polip yang pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kanker.

Namun, angka 45% tersebut harus dibaca dengan hati-hati.

Penelitian ini tidak mengatakan bahwa konsumsi UPF meningkatkan risiko kanker kolorektal sebesar 45%. Yang ditemukan adalah hubungan dengan adenoma atau lesi prakanker tertentu.

Tidak semua adenoma berubah menjadi kanker. Penelitian tersebut juga tidak menemukan hubungan yang sama pada serrated lesions.

Selain itu, pesertanya adalah perempuan tenaga kesehatan di Amerika Serikat. Karena desainnya observasional, penelitian ini menunjukkan hubungan, bukan membuktikan bahwa 
UPF secara langsung menyebabkan kanker.

Bagaimana dengan Indonesia?


Penelitian di Indonesia juga mulai menunjukkan bahwa pola hidup perlu diperhatikan pada kanker kolorektal usia muda.

Studi tahun 2025 terhadap 171 pasien di dua rumah sakit rujukan kanker di Jakarta menemukan bahwa konsumsi daging olahan yang lebih sering, makanan gorengan, perilaku sedentari, serta beberapa kondisi metabolik berkaitan dengan kanker kolorektal usia muda pada populasi yang diteliti.

Studi lain pada populasi Sulawesi Selatan juga menemukan bahwa konsumsi sayur dan buah berhubungan dengan risiko kanker kolorektal yang lebih rendah.

Namun, penelitian-penelitian tersebut bersifat observasional. Karena itu, hasilnya belum cukup untuk mengatakan bahwa satu jenis makanan tertentu menjadi penyebab kanker.

Mengapa UPF Tetap Perlu Diperhatikan?


Kemungkinan masalahnya tidak berasal dari satu bahan tertentu.

Pola makan tinggi UPF sering memberi lebih sedikit ruang bagi sayur, buah, kacang-kacangan, dan makanan kaya serat.

WHO memasukkan pola makan rendah buah dan sayur sebagai salah satu faktor risiko kanker kolorektal. IARC juga menyatakan terdapat bukti kuat bahwa konsumsi biji-bijian utuh dan makanan kaya serat membantu menurunkan risiko kanker kolorektal.

Selain itu, sebagian UPF tinggi gula, lemak, atau kalori. Jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang, pola tersebut dapat berkontribusi terhadap kelebihan berat badan dan gangguan metabolik.

WHO memasukkan obesitas dan kurang aktivitas fisik sebagai faktor risiko kanker kolorektal.
Jadi, hubungan antara UPF dan kanker kemungkinan jauh lebih kompleks daripada sekadar satu bahan makanan.

Daging Olahan Memiliki Bukti yang Lebih Kuat


Ada satu kelompok makanan yang memiliki bukti lebih jelas, yaitu daging olahan.

Contohnya antara lain sosis, ham, kornet, dan beberapa produk daging yang diawetkan.

IARC mengklasifikasikan konsumsi daging olahan sebagai karsinogenik bagi manusia berdasarkan bukti bahwa konsumsinya dapat menyebabkan kanker kolorektal.

Analisis yang digunakan WHO menunjukkan konsumsi sekitar 50 gram daging olahan setiap hari berkaitan dengan peningkatan risiko relatif kanker kolorektal sekitar 18%.

Angka tersebut bukan berarti makan sosis sekali langsung meningkatkan kemungkinan seseorang terkena kanker sebesar 18%.

Yang dibicarakan adalah pola konsumsi rutin dalam jangka panjang.

Bagaimana dengan Mikrobioma Usus?


Bidang lain yang sedang banyak diteliti adalah mikrobioma, yaitu kumpulan mikroorganisme yang hidup di dalam usus.

Pada 2025, penelitian yang dipimpin IARC menganalisis kanker kolorektal dari 981 pasien di 11 negara dan empat benua.

Peneliti menemukan jejak mutasi yang berkaitan dengan colibactin, zat yang dapat merusak DNA dan diproduksi strain tertentu bakteri Escherichia coli. Jejak tersebut lebih sering ditemukan pada kanker kolorektal yang muncul sebelum usia 50 tahun.

Temuan ini memberi petunjuk bahwa paparan mikrobioma sejak usia lebih muda mungkin mempunyai peran.

Namun, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa UPF menyebabkan perubahan colibactin atau bahwa makanan tertentu secara langsung menyebabkan kanker melalui bakteri tersebut.

Karena itu, hubungan makanan, mikrobioma, metabolisme, dan kanker masih terus diteliti.

Apakah Semua Makanan Kemasan Harus Dihentikan?


Tidak.

Yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan dan seberapa sering makanan tersebut dikonsumsi.

Menikmati makanan instan sesekali tidak sama dengan pola makan yang setiap hari didominasi minuman berpemanis, daging olahan, camilan kemasan, dan makanan siap santap sementara konsumsi sayur, buah, serta serat sangat sedikit.

Beberapa perubahan sederhana dapat dilakukan:
  • menjadikan air putih sebagai minuman utama;
  • menambah sayur dan buah setiap hari;
  • memilih tahu, tempe, ikan, telur, atau kacang-kacangan lebih sering daripada daging olahan;
  • menjadikan sosis, kornet, dan makanan sejenis sebagai makanan sesekali, bukan lauk harian;
  • lebih sering memilih makanan yang sedikit diproses; dan
  • memperhatikan pola makan selama satu minggu, bukan merasa bersalah karena satu kali makan.

Panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan juga menganjurkan agar sekitar separuh piring diisi sayur dan buah, sementara bagian lainnya terdiri dari makanan pokok dan lauk-pauk.

Bukan Satu Makanan, Melainkan Pola Bertahun-tahun


Kanker kolorektal pada usia muda memang meningkat di sejumlah negara.

Namun, para ilmuwan belum menemukan satu penyebab yang menjelaskan semuanya.

Pola makan kemungkinan hanya satu bagian dari gambaran yang lebih besar, bersama obesitas, diabetes, kurang aktivitas fisik, mikrobioma, faktor lingkungan, serta faktor genetik.

Karena itu, pesan yang tepat bukan:
“Makanan ultraolahan pasti menyebabkan kanker usus.”

Bukti ilmiah belum mendukung kesimpulan sesederhana itu.

Pesan yang lebih berguna adalah bahwa pola makan tinggi makanan ultraolahan mulai dikaitkan dengan perubahan prakanker pada usus, sementara konsumsi daging olahan tinggi, rendah serat, obesitas, dan kurang aktivitas fisik sudah memiliki bukti yang lebih kuat berkaitan dengan kanker kolorektal.

Bukan takut pada satu bungkus makanan, tetapi mulai memberi lebih banyak ruang setiap hari untuk sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan makanan yang lebih sedikit diproses.

Daftar Pustaka
  1. Wang C, Du M, Kim H, et al. (2026). Ultraprocessed Food Consumption and Risk of Early-Onset Colorectal Cancer Precursors Among Women. JAMA Oncology, 12(1), 49–57.
  2. Sianturi N, Dahlia D, Edison C. (2025). Factors Associated with the Incidence of Young-Onset Colorectal Cancer: A Cross-Sectional Study. Narra J, 5(3), e2853.
  3. Nurlaila I, et al. (2021). Dietary Intake as Determinant Nongenetic Factors to Colorectal Cancer Incidence and Staging Progression: A Study in South Sulawesi Population, Indonesia. Nutrition and Cancer.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kanker Usus Besar. Ayo Sehat.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Lebih Dalam Mengenal Kanker Usus Besar (Kolorektal).
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Isi Piringku, Panduan Kebutuhan Gizi Seimbang Harian. Ayo Sehat.
  7. World Health Organization. (2026, 13 Februari). Colorectal Cancer.
  8. World Health Organization. (2026). Carcinogenicity of Red and Processed Meat.
  9. International Agency for Research on Cancer. (2026). European Code Against Cancer, 5th Edition: Healthy Diet.
  10. International Agency for Research on Cancer. (2025, 28 April). Geographic and Age Variations in Mutational Processes in Colorectal Cancer.

Komentar (0)

Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.

Masuk / Daftar