Ada rasa lega karena satu tahap besar akhirnya selesai. Keluarga pun mungkin mulai mengatakan, “Sekarang tinggal kembali hidup seperti biasa.”
Namun, bagi banyak pasien, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Setelah terapi utama berakhir, masih ada kontrol berkala, efek pengobatan yang mungkin belum hilang, obat yang harus diteruskan, perubahan tubuh, hingga kekhawatiran apakah kanker dapat kembali.
Fase kehidupan setelah pengobatan inilah yang menjadi bagian penting dari cancer survivorship.
American Cancer Society menegaskan bahwa perawatan kanker tidak berhenti ketika terapi selesai.
Follow-up care tetap diperlukan untuk memantau kemungkinan kekambuhan, menangani efek pengobatan, serta menjaga kesehatan pasien secara keseluruhan.
Selesai Terapi Utama Belum Tentu Semua Pengobatan Berakhir
Perjalanan setiap pasien kanker payudara berbeda.
Seseorang mungkin telah menyelesaikan operasi, kemoterapi, dan radioterapi, tetapi masih perlu menjalani terapi hormonal selama beberapa tahun. Pasien lain dapat membutuhkan terapi lanjutan sesuai karakter biologis kanker dan rencana dokter.
Karena itu, ketika terapi utama dinyatakan selesai, ada beberapa pertanyaan penting yang perlu diketahui:
Kementerian Kesehatan pada 2026 menerbitkan Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Kanker Payudara sebagai acuan nasional untuk diagnosis dan terapi kanker payudara berbasis bukti.
Artinya, fase setelah terapi juga tetap perlu mengikuti rencana masing-masing pasien, bukan meniru jadwal pasien lain.
Kalau Sudah Tidak Ada Keluhan, Mengapa Masih Harus Kontrol?
Salah satu tujuan kontrol adalah memantau kemungkinan kanker kembali atau kekambuhan.
Namun, kontrol bukan berarti setiap pasien harus menjalani CT scan, PET scan, USG seluruh tubuh, atau berbagai tes darah setiap beberapa bulan.
National Cancer Institute menjelaskan bahwa pada pasien tanpa gejala yang telah menyelesaikan terapi kanker payudara stadium I–III, pemeriksaan rutin seperti bone scan, USG hati, rontgen dada, dan tes fungsi hati tidak terbukti meningkatkan kelangsungan hidup atau kualitas hidup dibandingkan pemantauan rutin. Untuk pasien tanpa gejala, tindak lanjut dapat mencakup pemeriksaan fisik dan mammografi.
Jadi, lebih banyak pemeriksaan belum tentu berarti pemantauan yang lebih baik.
Pemeriksaan tambahan dapat dilakukan bila memang terdapat gejala, temuan tertentu, atau alasan medis yang memerlukannya.
Mammografi Tetap Menjadi Bagian Penting
Bagi pasien yang masih memiliki jaringan payudara setelah pengobatan, mammografi berkala
umumnya tetap menjadi bagian dari pemantauan.
Tujuannya adalah membantu mendeteksi kekambuhan pada payudara atau kanker payudara baru.
Namun jadwal pemeriksaan dapat berbeda tergantung jenis operasi, terapi yang pernah dijalani, kondisi pasien, dan rekomendasi dokter.
Karena itu, pertanyaan sederhana seperti:
perlu ditanyakan ketika memasuki fase kontrol jangka panjang.
Efek Pengobatan Bisa Bertahan Setelah Terapi Selesai
Selesainya pengobatan tidak selalu berarti tubuh langsung kembali seperti sebelum kanker.
American Cancer Society membedakan efek jangka panjang, yaitu masalah yang dimulai selama terapi dan masih berlanjut setelahnya, dengan efek lambat, yaitu masalah yang baru muncul beberapa bulan atau bahkan tahun setelah terapi selesai.
Pada penyintas kanker payudara, keluhan yang muncul dapat berbeda-beda.
Sebagian masih mengalami kelelahan. Ada yang merasakan kebas atau kesemutan setelah kemoterapi. Operasi dan penanganan kelenjar getah bening juga dapat meningkatkan risiko limfedema, yaitu pembengkakan yang dapat terjadi pada lengan atau area sekitar payudara.
Pasien yang masih menggunakan terapi hormonal dapat mengalami keluhan tertentu, termasuk rasa panas tiba-tiba, nyeri sendi, atau masalah kesehatan tulang.
Tidak semua pasien akan mengalami masalah tersebut.
Namun keluhan baru atau yang menetap sebaiknya dibicarakan saat kontrol, bukan dianggap sebagai sesuatu yang harus ditahan karena “pengobatannya sudah selesai”.
“Apakah Kankernya Bisa Kembali?”
Pertanyaan ini mungkin tidak ikut menghilang ketika kemoterapi terakhir selesai.
Banyak pasien merasa cemas ketika muncul rasa sakit baru atau ketika jadwal kontrol semakin dekat. Kekhawatiran terhadap kanker yang kembali merupakan pengalaman yang umum setelah pengobatan.
Kontrol karena itu bukan hanya kesempatan memeriksa kondisi fisik.
National Cancer Institute menjelaskan bahwa kunjungan setelah terapi juga dapat digunakan untuk membicarakan masalah emosional, sosial, maupun masalah lain yang muncul setelah pengobatan.
Jika kecemasan mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan dengan keluarga, atau aktivitas sehari-hari, pasien tidak perlu menghadapinya sendiri. Kekhawatiran tersebut dapat dibicarakan dengan dokter atau tenaga kesehatan yang mendampingi.
Tidak Ada Makanan yang Menjamin Kanker Tidak Kembali
Setelah pengobatan selesai, pasien sering menerima banyak saran.
Sampai saat ini tidak ada satu makanan, minuman, atau suplemen yang dapat menjamin kanker payudara tidak akan kambuh.
Yang lebih berguna adalah membangun kesehatan secara keseluruhan: mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menjaga aktivitas fisik sesuai kemampuan, mempertahankan berat badan yang sehat, dan tidak merokok.
Jika ingin menggunakan suplemen atau produk herbal selama masih menjalani terapi hormonal atau obat lain, sebaiknya informasikan kepada dokter agar dapat dinilai keamanannya bersama obat yang sedang digunakan.
WHO juga menempatkan rehabilitasi sebagai bagian dari pelayanan kanker payudara yang komprehensif untuk membantu pasien mempertahankan fungsi dan kesejahteraan.
Simpan Riwayat Pengobatan Anda
Setelah melewati berbulan-bulan pengobatan, tanggal dan nama terapi mudah terlupakan.
Karena itu, salah satu kebiasaan sederhana yang berguna adalah menyimpan ringkasan perjalanan pengobatan.
American Cancer Society menyarankan catatan tersebut memuat antara lain diagnosis dan stadium kanker, jenis pengobatan beserta waktunya, hasil pemeriksaan penting, efek samping yang pernah dialami, serta pengobatan yang masih perlu dilanjutkan.
Pasien juga dapat menanyakan apakah tersedia survivorship care plan atau rencana perawatan setelah terapi.
Rencana tersebut dapat membantu menjawab:
- kapan harus kembali kontrol;
- pemeriksaan apa yang diperlukan;
- obat apa yang masih diteruskan;
- efek jangka panjang apa yang perlu diperhatikan; dan
- kapan harus menghubungi tenaga kesehatan.
Catatan ini sangat membantu apabila suatu saat pasien berpindah dokter atau fasilitas kesehatan.
Hidup Setelah Kanker Tidak Harus Sama seperti Sebelum Kanker
Bagi sebagian orang, selesai pengobatan berarti perlahan kembali bekerja.
Bagi yang lain, pemulihan membutuhkan waktu lebih panjang.
Tubuh mungkin berubah. Cara memandang kehidupan dapat berubah. Rasa percaya diri, hubungan dengan keluarga, dan prioritas hidup juga dapat berubah.
Karena itu, tidak perlu memaksa diri segera “kembali seperti dulu”.
Pada Juli 2026, WHO untuk pertama kalinya menerbitkan estimasi kesintasan kanker payudara lima tahun untuk seluruh 194 negara anggotanya. Median globalnya mencapai 77,8%, tetapi terdapat kesenjangan besar antarwilayah dan tingkat pendapatan.
Indonesia sendiri melalui Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara 2025–2034 menargetkan peningkatan kesintasan lima tahun hingga 70% pada 2034.
Semakin banyak orang yang hidup bertahun-tahun setelah diagnosis, semakin penting pula memastikan bahwa pelayanan kanker tidak hanya berbicara tentang menyelesaikan terapi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang hidup setelahnya.
Selesai operasi, kemoterapi, atau radioterapi memang patut dirayakan.
Tetapi perjalanan tidak selalu berakhir pada hari terapi terakhir.
Survivorship adalah tentang melanjutkan kehidupan sambil tetap mengikuti kontrol, mengenali perubahan tubuh, menjaga kesehatan, dan perlahan membangun ritme hidup yang terasa nyaman setelah kanker.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. (2026, 3 Juli). Breast Cancer.
- World Health Organization. (2026, 8 Juli). First Global Breast Cancer Survival Estimates Show Wide Regional and Income Disparities.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Kanker Payudara. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/657/2026.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Kemenkes Targetkan Turunkan Kematian Kanker Payudara 2,5% Per Tahun Melalui RAN 2025–2034.
- National Cancer Institute. Follow-Up Medical Care After Cancer Treatment.
- National Cancer Institute. Breast Cancer Treatment (PDQ®): Posttherapy Surveillance of Stages I, II, and III Breast Cancer.
- American Cancer Society. Follow-up Care After Cancer Treatment.
- American Cancer Society. Living as a Breast Cancer Survivor.
- American Cancer Society. ASCO Cancer Treatment and Survivorship Care Plans.