YKKI
10 Tahun YKKI

YKKI.ORG

Melayani, menguatkan, dan berjalan bersama pasien kanker.

Memuat...
Skip to content
Home Program Donasi Tentang
kesehatan

Anak Masih Kecil, Mengapa Sudah Perlu Vaksin HPV? Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua

Y
YKKI
10 dilihat
Anak Masih Kecil, Mengapa Sudah Perlu Vaksin HPV? Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua

anak diberikan perlindungan sekarang, sebelum risiko paparan muncul di kemudian hari.

Ketika sekolah mengirim pemberitahuan bahwa anak akan mendapatkan imunisasi HPV, sebagian orang tua mungkin langsung bertanya:
“Anak saya masih kecil. Mengapa sudah perlu vaksin HPV?”
“Apakah vaksinnya aman?”
“Benarkah vaksin HPV bisa memengaruhi kesuburan?”
Pertanyaan seperti ini wajar muncul. Apalagi HPV sering dikaitkan dengan infeksi yang dapat menular melalui kontak seksual, sehingga sebagian orang tua mungkin merasa vaksin belum diperlukan pada usia sekolah.
Padahal, justru vaksin HPV paling bermanfaat jika diberikan sebelum seseorang terpapar virus HPV.
Tujuannya bukan karena anak sedang sakit atau dianggap sudah aktif secara seksual. Vaksin diberikan sejak dini agar tubuh mempunyai perlindungan sebelum kemungkinan paparan terjadi di kemudian hari.
World Health Organization (WHO) menempatkan anak perempuan usia 9–14 tahun sebagai kelompok prioritas vaksinasi HPV. Vaksinasi pada usia tersebut sangat efektif dalam mencegah infeksi HPV dan membantu mencegah kanker serviks serta kanker lain yang berkaitan dengan HPV.

Apa Itu HPV?
HPV adalah singkatan dari human papillomavirus.
HPV sebenarnya merupakan kelompok besar virus dengan banyak tipe. Sebagian tidak menyebabkan masalah serius, tetapi beberapa jenis yang disebut HPV berisiko tinggi dapat menyebabkan perubahan sel yang dalam jangka panjang berkembang menjadi kanker.
Infeksi HPV yang menetap merupakan penyebab utama kanker serviks. Namun, dampaknya tidak terbatas pada kanker serviks.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, infeksi persisten atau infeksi yang menetap dengan jenis HPV tertentu dapat menyebabkan setidaknya enam jenis kanker, yaitu:
  1. Hampir semua kasus kanker serviks.
  2. 90% kanker anus.
  3. 78% kanker vagina.
  4. 60% kanker orofaringeal, yaitu kanker di bagian belakang tenggorokan, termasuk pangkal lidah dan amandel.
  5. 50% kanker penis.
  6. 25% kanker vulva.
Data tersebut menunjukkan bahwa HPV bukan hanya persoalan kesehatan perempuan atau kanker serviks. Virus ini juga berkaitan dengan sejumlah kanker yang dapat terjadi pada perempuan maupun laki-laki.
HPV sangat umum dan dapat menular melalui kontak kulit ke kulit pada area intim. Hubungan seksual penetratif bukan satu-satunya cara virus dapat berpindah.
Karena itu, pencegahan melalui vaksin diberikan sebelum seseorang memasuki masa ketika risiko paparan mulai meningkat.
Walaupun pembahasan artikel ini berfokus pada anak perempuan karena kaitannya dengan pencegahan kanker serviks, Kementerian Kesehatan RI pada 2026 juga telah memberikan informasi mengenai imunisasi HPV bagi anak laki-laki untuk membantu mencegah penyakit terkait HPV.

Mengapa Diberikan Saat Anak Masih Usia Sekolah?
Justru karena vaksin bekerja sebagai pencegahan.
Kita tidak menunggu seseorang terkena infeksi HPV terlebih dahulu untuk kemudian memberikan perlindungan.
WHO merekomendasikan anak perempuan usia 9–14 tahun sebagai kelompok utama vaksinasi, sebelum mereka mulai aktif secara seksual. Tubuh pada usia muda juga menghasilkan respons kekebalan yang sangat baik terhadap vaksin HPV.
Cara berpikirnya sama seperti imunisasi lainnya.
Kita memberikan perlindungan sebelum penyakit atau paparan terjadi, bukan setelah seseorang sakit.
Karena itu, pemberian vaksin HPV pada anak usia sekolah tidak berarti anak dianggap sudah aktif secara seksual. Vaksin diberikan lebih awal agar perlindungan sudah terbentuk ketika suatu saat dibutuhkan.

Bagaimana Jadwal Vaksin HPV di Indonesia?
Ini bagian yang penting karena kebijakan imunisasi dapat berubah mengikuti perkembangan bukti ilmiah dan program nasional.
Dalam FAQ Imunisasi HPV terbaru yang diterbitkan Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI pada 25 September 2026, Kemenkes merekomendasikan imunisasi HPV cukup satu dosis jika diberikan sebelum usia 20 tahun.
Untuk program rutin, Indonesia memberikan imunisasi HPV kepada anak kelas 5 SD/MI atau usia 11 tahun bagi anak yang tidak mengikuti pendidikan formal.
Hal penting yang perlu diketahui orang tua adalah waktu pelaksanaannya. Imunisasi HPV diberikan secara gratis kepada peserta didik di sekolah dalam rangkaian program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang dilaksanakan pada bulan Agustus setiap tahunnya.
Jadi, apabila sekolah mengirimkan pemberitahuan imunisasi HPV pada periode BIAS di bulan Agustus, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program imunisasi nasional.
Sementara itu, anak usia sasaran yang tidak bersekolah dapat memperoleh imunisasi HPV secara gratis melalui puskesmas atau pos imunisasi lainnya.
WHO sendiri memperbolehkan jadwal satu atau dua dosis untuk anak perempuan usia 9–14 tahun. Jadwal yang diterapkan setiap negara dapat berbeda sesuai kebijakan program imunisasi nasional.
Karena itu, untuk anak di Indonesia, ikuti jadwal yang diberikan sekolah, puskesmas, dan Kementerian Kesehatan.

Kalau Anak Terlewat Jadwal, Apakah Sudah Terlambat?
Tidak.
Anak mungkin sedang sakit, tidak masuk sekolah, pindah sekolah, atau karena alasan lain tidak mendapat imunisasi ketika pelaksanaan BIAS.
Menurut Kementerian Kesehatan, anak yang melewatkan imunisasi HPV di kelas 5 SD/MI masih dapat memperoleh imunisasi susulan.
Orang tua dapat menghubungi guru atau wali kelas untuk menanyakan jadwal susulan atau mendatangi puskesmas terdekat untuk berkonsultasi.
Prinsipnya sederhana: terlewat jadwal bukan berarti kesempatan memperoleh perlindungan hilang.
Simpan pula catatan atau buku imunisasi anak agar riwayat vaksinasi dapat diketahui dengan jelas.

Apakah Vaksin HPV Aman?
Keamanan menjadi salah satu pertanyaan paling penting bagi orang tua.
Kementerian Kesehatan RI menyatakan vaksin HPV memiliki profil keamanan yang baik. Efek setelah imunisasi umumnya ringan, seperti nyeri, bengkak, atau kemerahan pada lokasi suntikan dan biasanya menghilang dalam beberapa hari.
Efek serius dapat terjadi pada semua jenis vaksin, tetapi pada imunisasi HPV kejadian tersebut sangat jarang.
Pemantauan keamanan juga terus dilakukan.
WHO dalam pembaruan keselamatan vaksin tahun 2026 melaporkan bahwa penilaian terhadap berbagai studi besar berkualitas tinggi tidak menemukan masalah keamanan baru yang mengubah rekomendasi penggunaan vaksin HPV.
Jadi, vaksin HPV bukan produk baru yang baru mulai dipantau. Vaksin ini telah digunakan secara luas di banyak negara selama bertahun-tahun dan data keamanannya terus dievaluasi.
Jika setelah imunisasi anak mengalami keluhan yang membuat orang tua khawatir, laporkan kepada petugas kesehatan atau puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan.

Apakah Vaksin HPV Bisa Menyebabkan Infeksi HPV?
Tidak.
Vaksin HPV tidak mengandung virus HPV hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh.
WHO menjelaskan bahwa vaksin HPV dibuat menggunakan virus-like particles atau VLP, yaitu partikel yang menyerupai bagian luar virus sehingga sistem kekebalan dapat belajar mengenalinya.
Partikel tersebut tidak mengandung materi genetik virus dan tidak dapat berkembang biak atau menyebabkan infeksi HPV.
Bayangkan seperti mengenalkan “foto identitas” virus kepada sistem kekebalan tanpa memasukkan virus yang dapat menyebabkan penyakit.
Karena itu, seseorang tidak dapat tertular HPV akibat vaksin HPV.

Benarkah Vaksin HPV Bisa Menyebabkan Kemandulan?
Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa vaksin HPV menyebabkan kemandulan.
Ini termasuk salah satu isu yang cukup sering membuat orang tua ragu.
FAQ Imunisasi HPV terbaru Kementerian Kesehatan RI secara langsung menyatakan bahwa tidak terdapat bukti ilmiah bahwa vaksin HPV memengaruhi kesuburan di masa depan.
WHO melalui Global Advisory Committee on Vaccine Safety juga telah meninjau penelitian mengenai vaksin HPV dan infertilitas.
Kajian tersebut tidak menemukan bukti hubungan sebab-akibat antara vaksinasi HPV dengan infertilitas maupun primary ovarian insufficiency, yaitu kondisi ketika fungsi ovarium menurun sebelum usia 40 tahun.
Jadi, informasi bahwa vaksin HPV menyebabkan anak perempuan menjadi mandul tidak didukung oleh bukti ilmiah yang tersedia.
Jika orang tua menerima pesan semacam ini melalui WhatsApp, media sosial, atau grup keluarga, sebaiknya periksa sumbernya sebelum mempercayai atau meneruskannya.

Apakah Anak yang Divaksin Dijamin Tidak Akan Terkena Kanker Serviks?
Vaksin HPV memberikan perlindungan yang sangat penting, tetapi tidak berarti seseorang kemudian memiliki jaminan mutlak tidak akan pernah mengalami kanker serviks.
Ada banyak jenis HPV.
Vaksin HPV melindungi terhadap beberapa tipe HPV berisiko tinggi yang bertanggung jawab terhadap sebagian besar kanker serviks. WHO menjelaskan bahwa vaksin HPV yang tersedia melindungi terhadap HPV tipe 16 dan 18, yang menyebabkan sebagian besar kasus kanker serviks.
Namun, masih terdapat tipe HPV berisiko tinggi lainnya.
Karena itu, ketika anak perempuan yang telah divaksin tumbuh dewasa dan memasuki usia sasaran skrining, ia tetap perlu mengikuti rekomendasi skrining kanker serviks yang berlaku.
Vaksinasi dan skrining bukan dua pilihan yang saling menggantikan.
Vaksin membantu mencegah infeksi sejak awal. Skrining membantu menemukan infeksi berisiko tinggi atau perubahan prakanker yang mungkin tetap terjadi.
Keduanya menjadi bagian dari strategi pencegahan kanker serviks.

Mengapa Tidak Menunggu Anak Dewasa Saja?
Karena menunggu hingga risiko paparan sudah muncul justru mengurangi keuntungan utama vaksinasi.
Vaksin HPV bekerja paling baik ketika diberikan sebelum seseorang pernah terpapar HPV.
WHO karena itu memprioritaskan vaksinasi pada usia 9–14 tahun.
Tujuan vaksin bukan mengobati infeksi HPV yang sudah ada. Vaksin membantu sistem kekebalan mengenali tipe HPV tertentu sehingga tubuh mempunyai pertahanan ketika berhadapan dengan virus tersebut di kemudian hari.
Jadi, usia sekolah bukan terlalu dini.
Dalam konteks pencegahan, justru itulah waktunya.
Perlindungan Hari Ini untuk Kesehatan Saat Dewasa
Bagi orang tua, membicarakan kanker serviks ketika anak masih duduk di sekolah dasar mungkin terasa terlalu jauh.
Tetapi kanker serviks juga tidak muncul dalam waktu singkat.
Penyakit ini umumnya berkembang bertahun-tahun setelah seseorang mengalami infeksi HPV berisiko tinggi yang menetap.
Karena itu, pencegahannya dimulai jauh sebelum kanker menjadi persoalan.
Ketika anak mendapat jadwal imunisasi HPV dari sekolah, terutama dalam rangkaian BIAS pada bulan Agustus, jangan melihatnya sebagai tanda bahwa anak “sudah membutuhkan vaksin karena aktivitas seksual”.
Cara melihatnya justru sebaliknya:
anak diberikan perlindungan sekarang, sebelum risiko paparan muncul di kemudian hari.
Vaksin HPV adalah salah satu bentuk pencegahan jangka panjang. Satu langkah yang dilakukan ketika anak masih sekolah dapat membantu mengurangi risiko kanker ketika ia telah dewasa.

Daftar Pustaka
  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 25 September). Pertanyaan Umum Seputar Imunisasi HPV (FAQ Imunisasi HPV). Ayo Sehat.
  2. Puspitasari, M. (2024, 2 Mei). Vaksin HPV, Mencegah Kanker Leher Rahim Demi Mewujudkan Generasi Sehat. Ayo Sehat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  3. World Health Organization. (2026, 3 Juli). Cervical cancer.
  4. World Health Organization. Human papillomavirus vaccines (HPV). Immunization, Vaccines and Biologicals.
  5. World Health Organization. (2022, 16 Desember). Human papillomavirus vaccines: WHO position paper, December 2022. Weekly Epidemiological Record, 97(50), 645–672.
  6. World Health Organization, Global Advisory Committee on Vaccine Safety. (2020, 24 Januari). Human papilloma virus vaccines and infertility.
  7. World Health Organization. Human Papillomavirus (HPV): Vaccine Standardization.
  8. World Health Organization. (2026). Joint meeting of ACSoMP and GACVS June 2026. Weekly Epidemiological Record, 101(34). Bagian: “Human papillomavirus vaccine – safety update”.

Komentar (0)

Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.

Masuk / Daftar