Menemukan perubahan seperti ini memang bisa membuat khawatir. Namun, munculnya satu gejala tidak otomatis berarti kanker.
Benjolan, misalnya, dapat berkaitan dengan berbagai kondisi. Luka yang sulit sembuh juga dapat terjadi akibat gangguan kesehatan lain seperti diabetes. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa gejala yang dapat berkaitan dengan kanker sangat beragam dan bergantung pada jenis serta lokasi penyakitnya.
Karena itu, yang lebih penting bukan langsung menebak penyebabnya, tetapi mengenali perubahan yang terasa tidak biasa dan mengetahui kapan perlu memeriksakannya.
1. Ada Benjolan Baru, Apakah Harus Khawatir?
Benjolan merupakan salah satu perubahan tubuh yang cukup mudah disadari.
Benjolan dapat muncul di leher, ketiak, payudara, permukaan kulit, atau bagian tubuh lainnya. Tidak semua benjolan bersifat ganas. Ada benjolan yang berkaitan dengan kista, pembesaran kelenjar, maupun tumor jinak.
Namun, bukan berarti benjolan baru sebaiknya diabaikan.
Dalam edukasi RSUP Dr. M. Djamil Padang yang dimuat Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, masyarakat dianjurkan lebih waspada terhadap benjolan yang membesar, terasa keras, sulit digerakkan, atau disertai perubahan pada kulit di sekitarnya.
Kementerian Kesehatan juga memasukkan adanya benjolan pada payudara atau bagian tubuh lainnya sebagai salah satu tanda dalam pesan WASPADA kanker.
Artinya, jika menemukan benjolan baru yang menetap atau mengalami perubahan, sebaiknya jangan hanya mencoba menilai sendiri apakah benjolan tersebut berbahaya.
Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu mencari tahu penyebab sebenarnya.
2. Luka yang Tidak Kunjung Sembuh Juga Perlu Diperhatikan
Luka kecil akibat tergores atau terkena benda tertentu biasanya akan berangsur membaik.
Namun, bagaimana jika luka terus menetap, semakin melebar, mudah berdarah, atau tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan?
Dalam pesan WASPADA kanker dari Kementerian Kesehatan, koreng atau borok yang tidak kunjung sembuh termasuk salah satu perubahan yang perlu mendapat perhatian.
Meski demikian, luka yang lama sembuh tidak selalu berkaitan dengan kanker.
Diabetes, misalnya, dapat membuat proses penyembuhan luka menjadi lebih lambat. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa gangguan saraf dan aliran darah pada penderita diabetes dapat menyebabkan luka lebih sulit sembuh dan lebih rentan mengalami infeksi.
Karena penyebabnya bisa bermacam-macam, luka yang tidak menunjukkan perbaikan justru sebaiknya diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui.
3. Perhatikan Juga Perubahan pada Kulit
Kulit merupakan bagian tubuh yang dapat kita lihat sendiri setiap hari.
Karena itu, perubahan pada kulit sebenarnya cukup mudah dikenali jika kita mengetahui kondisi normal tubuh kita.
Menurut Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI, beberapa perubahan yang perlu diperhatikan antara lain munculnya benjolan baru pada kulit, perubahan pada tahi lalat, perubahan warna atau bentuk, serta luka yang tidak sembuh dan cenderung melebar atau semakin dalam.
Pada tahi lalat, perubahan ukuran, bentuk, warna, atau karakter lainnya juga perlu diperhatikan.
Dengan begitu, ketika muncul sesuatu yang benar-benar baru atau berubah, kita akan lebih mudah menyadarinya.
4. Tidak Hanya Benjolan dan Luka, Kenali Tanda WASPADA
Kementerian Kesehatan RI sejak lama menggunakan istilah WASPADA untuk membantu masyarakat mengingat beberapa perubahan tubuh yang perlu diperhatikan.
Pesannya mencakup perubahan kebiasaan buang air besar atau kecil, gangguan pencernaan dan sulit menelan, suara serak atau batuk berkepanjangan, benjolan pada payudara atau bagian tubuh lainnya, perubahan pada tahi lalat, keluarnya darah atau cairan yang tidak normal, serta luka atau borok yang tidak kunjung sembuh.
Selain itu, informasi kesehatan Kemenkes juga mencantumkan beberapa keluhan umum lain seperti:
- berat badan turun tanpa sebab yang jelas;
- kelelahan yang sulit dijelaskan;
- nyeri yang menetap;
- perubahan pada kulit;
- perubahan pola buang air besar atau buang air kecil;
- kesulitan menelan;
- batuk atau suara serak yang berkepanjangan; dan
- benjolan atau penebalan pada bagian tubuh tertentu.
Daftar tersebut bukan alat untuk menentukan sendiri bahwa seseorang terkena kanker.
Banyak keluhan serupa dapat muncul akibat penyakit lain. Namun, jika perubahan tersebut tidak kunjung membaik, semakin berat, atau terasa tidak biasa bagi tubuh kita, pemeriksaan diperlukan.
5. Haruskah Menunggu Sampai Sakit?
Tidak.
Benjolan atau perubahan tubuh tidak harus terasa sakit terlebih dahulu sebelum diperiksakan.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah perubahan tersebut baru muncul, menetap, bertambah besar, semakin berat, atau disertai keluhan lain.
Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya mengenali gejala dan melakukan pemeriksaan ketika keluhan tidak kunjung reda atau justru memburuk. Semakin cepat suatu kelainan dinilai, semakin cepat pula penyebabnya dapat diketahui dan penanganan yang sesuai diberikan.
Pada Juli 2026, Kementerian Kesehatan juga kembali menekankan bahwa keterlambatan diagnosis masih menjadi salah satu tantangan besar dalam penanganan kanker di Indonesia. Karena itu, deteksi dan penanganan lebih cepat menjadi bagian penting dalam upaya menekan dampak kanker.
Jadi, tujuan datang ke fasilitas kesehatan bukan karena kita sudah yakin suatu keluhan adalah kanker.
Tujuannya justru mencari tahu apa penyebab sebenarnya.
6. Apa yang Dilakukan Dokter Saat Kita Memeriksakan Diri?
Pemeriksaan biasanya dimulai dari hal sederhana.
Dokter akan menanyakan sejak kapan keluhan muncul, apakah ada perubahan ukuran atau bentuk, apakah terdapat nyeri, perdarahan, penurunan berat badan, atau keluhan lainnya.
Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik.
Jika memang diperlukan, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan tambahan. Informasi Ayo Sehat Kementerian Kesehatan menyebut pemeriksaan kanker dapat melibatkan pemeriksaan laboratorium, pencitraan seperti rontgen, CT scan atau MRI, serta biopsi pada kondisi tertentu.
Namun, tidak semua orang dengan benjolan membutuhkan biopsi dan tidak setiap keluhan membutuhkan CT scan atau pemeriksaan canggih lainnya.
Jenis pemeriksaan ditentukan berdasarkan keluhan, hasil pemeriksaan fisik, lokasi kelainan, riwayat kesehatan, serta pertimbangan dokter.
Karena itu, membandingkan benjolan atau luka dengan foto yang ditemukan di internet tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis.
7. Jangan Menunda Hanya karena Takut
Sebagian orang sebenarnya sudah menyadari ada sesuatu yang berbeda pada tubuhnya, tetapi memilih menunggu karena takut mendapat kabar buruk.
Padahal, belum tentu penyebabnya kanker.
Jika ternyata keluhan tersebut disebabkan oleh kondisi yang lebih ringan, pemeriksaan dapat membantu mendapatkan penanganan yang tepat. Jika ditemukan kondisi yang membutuhkan perhatian lebih serius, pemeriksaan lebih awal dapat mempercepat proses diagnosis dan pengobatan.
Kementerian Kesehatan terus mendorong masyarakat agar tidak takut melakukan pemeriksaan dan deteksi dini kanker.
Kenali Perubahan Tubuh, Bukan Mencurigai Setiap Keluhan
Mengenali tubuh sendiri bukan berarti kita harus menganggap setiap benjolan, luka, batuk, atau rasa sakit sebagai kanker.
Yang perlu dibangun adalah kebiasaan untuk memperhatikan perubahan.
Jika ada benjolan yang menetap atau membesar, luka yang tidak kunjung sembuh, perubahan pada tahi lalat atau kulit, perdarahan yang tidak biasa, batuk berkepanjangan, perubahan kebiasaan buang air, atau keluhan lain yang tidak kunjung membaik, jangan hanya menebak-nebak penyebabnya.
Bicarakan dengan tenaga kesehatan.
Karena pada akhirnya, pemeriksaan bukan tentang mencari alasan untuk takut. Pemeriksaan adalah cara untuk memperoleh jawaban yang lebih jelas tentang apa yang sedang terjadi pada tubuh kita.
Tidak perlu langsung panik ketika menemukan perubahan. Tetapi jangan pula mengabaikan perubahan yang terus menetap atau semakin memburuk.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kanker. Ayo Sehat, Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tanya Jawab (FAQ) Seputar Kanker. Ayo Sehat.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kanker Kulit. Ayo Sehat.
- Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI. Kenali Gejala-Gejala Penanda Kanker Sebelum Terlambat.
- Humas RSUP Dr. M. Djamil Padang. (2026, 14 April). RSUP Dr M Djamil sosialisasikan waspada benjolan dan tekankan pentingnya deteksi dini kanker. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tekan Angka Kematian Kanker, Kemenkes Tempuh Strategi Ini. 12 Juli 2026.
- Tim Promkes RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2023, 24 Mei). Mengenal Luka Diabetes. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia..