YKKI
10 Tahun YKKI

YKKI.ORG

Melayani, menguatkan, dan berjalan bersama pasien kanker.

Memuat...
Skip to content
Home Program Donasi Tentang
kesehatan

Kanker Kolorektal Makin Sering Ditemukan pada Usia Muda, Apa yang Sedang Berubah?

Y
YKKI
5 dilihat
Kanker Kolorektal Makin Sering Ditemukan pada Usia Muda, Apa yang Sedang Berubah?

Apa yang sedang berubah sehingga kanker yang dulu sangat identik dengan usia lanjut semakin diperhatikan pada generasi yang lebih muda?

Selama ini kanker kolorektal lebih sering dianggap sebagai penyakit usia lanjut.

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Sebagian besar kasus memang masih ditemukan pada orang berusia 50 tahun ke atas.

Namun, ada perubahan yang membuat dunia medis semakin memberi perhatian pada kelompok usia produktif.

Kanker kolorektal kini semakin sering ditemukan pada orang berusia di bawah 50 tahun di sejumlah negara.

Kondisi ini sering disebut early-onset colorectal cancer atau EOCRC, yaitu kanker kolon atau rektum yang didiagnosis sebelum usia 50 tahun.

World Health Organization (WHO) pada 2026 menyatakan bahwa meskipun kanker kolorektal masih terutama menyerang kelompok usia 50 tahun ke atas, bebannya meningkat pada orang dewasa usia 30–50 tahun di sejumlah wilayah.

Pertanyaannya kemudian:
Apa yang sedang berubah sehingga kanker yang dulu sangat identik dengan usia lanjut semakin diperhatikan pada generasi yang lebih muda?

Jawabannya belum sederhana.

Para peneliti menduga perubahan tersebut melibatkan kombinasi pola makan, berat badan, aktivitas fisik, rokok, alkohol, faktor metabolik, genetik, lingkungan, hingga kemungkinan paparan sejak usia dini.

Namun, belum ada satu faktor yang dapat menjelaskan seluruh peningkatan tersebut.

Tren Usia Muda Memang Sedang Terjadi

Amerika Serikat mempunyai salah satu sistem registrasi kanker yang memungkinkan perubahan berdasarkan usia diamati cukup jelas.

American Cancer Society melaporkan bahwa selama 2013–2022, angka kejadian kanker kolorektal pada orang berusia di bawah 50 tahun meningkat sekitar 2,9% setiap tahun.

Pada kelompok usia lebih tua, arah trennya justru berbeda.

ACS juga melaporkan bahwa sekitar tiga dari empat pasien kanker kolorektal berusia di bawah 50 tahun di Amerika Serikat didiagnosis ketika penyakit sudah berada pada stadium regional atau telah menyebar lebih jauh.

Namun, data tersebut adalah data Amerika Serikat.

Angka 2,9% tidak boleh langsung digunakan untuk mengatakan bahwa kejadian kanker kolorektal pada orang muda di Indonesia meningkat dengan kecepatan yang sama.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia juga mempunyai sinyal yang perlu diperhatikan.

Penelitian yang dilakukan oleh tim Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
menganalisis 1.584 kasus kanker kolorektal selama periode 2009–2019.

Dalam penelitian tersebut, pasien dibagi menjadi kelompok usia muda, yaitu di bawah 50 tahun, dan kelompok usia 50 tahun ke atas.

Pada kelompok usia muda ditemukan peningkatan tahunan yang cukup menonjol pada kanker kolon, sekitar 9,24% per tahun selama periode penelitian.

Temuan ini penting, tetapi harus dibaca dengan hati-hati.

Penelitian tersebut berasal dari satu rumah sakit rujukan nasional di Jakarta, sehingga tidak dapat dianggap sebagai angka kejadian seluruh penduduk Indonesia.

Data rumah sakit dipengaruhi oleh pola rujukan, jumlah pasien yang datang, kapasitas diagnosis, dan berbagai faktor lainnya.

Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa fenomena kanker kolorektal usia muda juga layak mendapat perhatian di Indonesia, bukan hanya di Amerika atau Eropa.

Di tingkat nasional, Kementerian Kesehatan telah memasukkan kanker kolorektal sebagai salah satu dari enam kanker prioritas dalam Rencana Kanker Nasional 2024–2034.

Berdasarkan GLOBOCAN 2022, Indonesia diperkirakan mengalami lebih dari 408 ribu kasus kanker baru secara keseluruhan, dan kanker kolorektal termasuk kanker yang memberikan beban penting terhadap kematian akibat kanker.

Apakah Penyebabnya Gaya Hidup Modern?

Gaya hidup sangat mungkin ikut berperan.

WHO mencantumkan beberapa faktor yang meningkatkan risiko kanker kolorektal, antara lain:
konsumsi tinggi daging olahan dan daging merah, rendahnya konsumsi buah dan sayur, kurang aktivitas fisik, 
kelebihan berat badan atau obesitas, merokok, serta konsumsi alkohol.

Kementerian Kesehatan RI juga mencantumkan kegemukan, merokok, konsumsi daging merah dan daging olahan, konsumsi alkohol, serta kurangnya asupan serat sebagai faktor risiko kanker kolorektal.

Banyak faktor tersebut memang semakin relevan dalam kehidupan modern.

Pekerjaan yang membuat seseorang duduk hampir sepanjang hari, perjalanan yang lebih banyak menggunakan kendaraan, konsumsi makanan praktis, serta meningkatnya kelebihan berat badan dapat membentuk lingkungan yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Namun, kita belum dapat mengatakan:
“Inilah penyebab kenaikan kanker kolorektal pada usia muda.”

Faktor risiko tidak sama dengan satu penyebab tunggal.

Bagaimana dengan Makanan Ultra-Proses dan Minuman Manis?

Makanan ultra-proses dan minuman berpemanis banyak diteliti dalam kaitannya dengan obesitas, diabetes, gangguan metabolik, dan beberapa jenis kanker.

Tetapi bukti untuk setiap jenis makanan tidak sama kuatnya.

Salah satu hubungan yang sudah memiliki bukti jauh lebih kuat adalah daging olahan dan kanker kolorektal.

International Agency for Research on Cancer atau IARC mengklasifikasikan daging olahan sebagai karsinogen bagi manusia berdasarkan bukti yang cukup mengenai kaitannya dengan kanker kolorektal.

Ini tidak berarti seseorang akan terkena kanker setelah sesekali makan sosis atau daging olahan.

Risiko berkaitan dengan pola konsumsi dan paparan jangka panjang.

Karena itu, lebih tepat berbicara mengenai pola makan keseluruhan daripada mencari satu bahan makanan untuk dijadikan kambing hitam.

Meningkatkan konsumsi sayur, buah, sumber serat dan biji-bijian, serta membatasi konsumsi daging olahan merupakan pendekatan yang lebih masuk akal.

Genetik Penting, tetapi Tidak Menjelaskan Semua Kasus

Pada sebagian pasien usia muda, faktor keturunan memang sangat penting.

Contohnya adalah Lynch syndrome dan familial adenomatous polyposis atau FAP.

Riwayat kanker kolorektal pada orang tua atau saudara kandung juga dapat meningkatkan risiko.

Karena itu, dokter tidak hanya bertanya apakah ada keluarga yang pernah mengalami kanker kolorektal, tetapi juga berapa usia mereka ketika didiagnosis.

Namun, sebagian besar kanker kolorektal usia muda tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu sindrom keturunan yang diketahui.

Itulah sebabnya peningkatan kanker kolorektal pada generasi muda masih menjadi teka-teki ilmiah.

Yayasan Gastroenterologi Indonesia juga menekankan pentingnya skrining lebih awal bagi orang dengan faktor risiko tinggi seperti riwayat keluarga kanker kolorektal, riwayat polip, atau penyakit radang usus.

Peneliti Mulai Melihat Apa yang Terjadi Sejak Usia Dini

Salah satu perkembangan penelitian yang menarik muncul pada 2025.

International Agency for Research on Cancer bersama peneliti dari sejumlah institusi menganalisis genom tumor dari 981 pasien kanker kolorektal di 11 negara pada empat benua.

Mereka menemukan pola mutasi tertentu yang berkaitan dengan colibactin.

Colibactin adalah zat yang dapat merusak DNA dan diproduksi oleh strain tertentu bakteri Escherichia coli di dalam usus.

Jejak mutasi yang berkaitan dengan colibactin ditemukan lebih sering pada pasien yang didiagnosis kanker kolorektal sebelum usia 50 tahun.

Temuan tersebut menarik karena pola mutasinya menunjukkan bahwa kerusakan DNA mungkin terjadi jauh lebih awal dalam kehidupan, bahkan bertahun-tahun sebelum kanker terdiagnosis.

Namun, jangan mengartikan hasil ini sebagai:
“Bakteri usus sudah terbukti menjadi penyebab meningkatnya kanker kolorektal usia muda.”

Belum.

Penelitian tersebut memberikan petunjuk biologis penting, tetapi para ilmuwan masih harus memahami mengapa paparan tertentu terjadi, siapa yang paling berisiko, dan bagaimana hubungannya dengan pola makan, lingkungan, antibiotik, mikrobioma, serta faktor lainnya.

Bahkan Peneliti Masih Mencari “Apa yang Berubah”

Pada September 2025, IARC juga melaporkan penelitian mengenai perubahan kanker kolorektal usia muda berdasarkan generasi kelahiran.

Penelitian di Australia, Kanada, Inggris, dan Amerika Serikat menemukan pola yang disebut birth-cohort effect.

Artinya, risiko tampaknya mulai berubah pada generasi yang lahir pada periode tertentu, bukan hanya karena mereka sedang berada pada usia tertentu.

Para peneliti menduga ada paparan baru atau perubahan lingkungan sejak masa kanak-kanak atau dewasa muda yang kemudian terakumulasi sepanjang kehidupan.

Tetapi apa tepatnya paparan tersebut?

Jawabannya belum diketahui.

Kemungkinan besar tidak hanya satu hal.

Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan Sekarang?

Kita tidak perlu menunggu para ilmuwan menemukan satu penyebab pasti untuk mulai mengurangi faktor risiko yang sudah diketahui.

WHO menganjurkan pola makan yang kaya buah dan sayur, tetap aktif secara fisik, menjaga berat badan sehat, tidak merokok, dan membatasi konsumsi alkohol.

Kementerian Kesehatan juga menganjurkan peningkatan konsumsi serat dari sayuran, buah, dan biji-bijian, aktivitas fisik rutin, menjaga berat badan, berhenti merokok, serta menghindari alkohol sebagai bagian dari upaya menurunkan risiko kanker kolorektal.

Riwayat keluarga juga perlu diperhatikan.

Jika orang tua, saudara kandung, atau beberapa anggota keluarga mengalami kanker kolorektal, terutama pada usia muda, sampaikan informasi tersebut kepada dokter.

Kelompok dengan risiko tinggi dapat membutuhkan skrining lebih awal dibandingkan masyarakat dengan risiko rata-rata.

Usia Muda Bukan Berarti Risikonya Nol

Pesan artikel ini bukan bahwa orang berusia 20, 30, atau 40 tahun harus hidup dalam ketakutan terhadap kanker usus.

Sebagian besar kanker kolorektal masih terjadi pada kelompok usia yang lebih tua.

Namun, data dari berbagai negara, penelitian Indonesia, serta perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa kalimat:
“Saya masih muda, jadi tidak mungkin kanker kolorektal”
sudah tidak tepat digunakan sebagai jaminan.

Mengapa kanker kolorektal semakin sering ditemukan pada usia muda belum sepenuhnya terjawab.

Kemungkinan jawabannya berada pada pertemuan banyak faktor: pola makan, berat badan, aktivitas fisik, rokok, alkohol, kondisi metabolik, genetik, mikrobiota usus, serta paparan yang mungkin dimulai jauh sebelum seseorang menyadari adanya penyakit.

Daripada mencari satu penyebab untuk disalahkan, langkah yang lebih berguna adalah memperbaiki faktor risiko yang bisa diubah, mengetahui riwayat kesehatan keluarga, serta tidak mengabaikan perubahan kesehatan pencernaan hanya karena merasa masih muda.

Daftar Pustaka
  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Kerangka Kerja Pencegahan dan Pengendalian Kanker.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Rencana Kanker Nasional 2024–2034: Strategi Indonesia dalam Upaya Melawan Kanker.
  3. Jeo, W. S. (2024, 28 Juni). Lebih Dalam Mengenal Kanker Usus Besar (Kolorektal). RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kanker Usus Besar. Ayo Sehat.
  5. Maulahela, H. (2026, 8 Mei). Skrining Kanker Kolorektal: Siapa yang Perlu Menjalani dan Kapan Harus Mulai? Yayasan Gastroenterologi Indonesia.
  6. Rahadiani, N., Habiburrahman, M., Abdullah, M., Jeo, W. S., Stephanie, M., Handjari, D. R., & Krisnuhoni, E. (2022). Analysing 11 years of incidence trends, clinicopathological characteristics, and forecasts of colorectal cancer in young and old patients: a retrospective cross-sectional study in an Indonesian national referral hospital. BMJ Open, 12, e060839.
  7. World Health Organization. (2026, 13 Februari). Colorectal cancer.
  8. American Cancer Society. (2026, 2 Maret). Colorectal Cancer Drops in Older Adults and Rises in Younger Ones.
  9. International Agency for Research on Cancer. (2025, 28 April). Geographic and age variations in mutational processes in colorectal cancer.
  10. International Agency for Research on Cancer. (2025, 9 September). Increase of early-onset colorectal cancer: a cohort effect.

Komentar (0)

Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.

Masuk / Daftar