Wajar jika pikiran langsung menuju kemungkinan yang paling menakutkan: “Apakah ini kanker payudara?”
Namun, menemukan benjolan tidak otomatis berarti kanker. World Health Organization (WHO) menyebut sebagian besar benjolan payudara bukan kanker. Benjolan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi jinak, termasuk fibroadenoma atau kista yang berisi cairan.
Meski demikian, WHO juga menganjurkan agar benjolan payudara yang tidak normal tetap diperiksakan kepada tenaga kesehatan, meskipun tidak terasa sakit.
Jadi, langkah pertama bukan panik dan bukan pula mencoba menebak-nebak sendiri. Langkah yang lebih tepat adalah memeriksakan benjolan agar penyebabnya dapat diketahui.
Jangan Menentukan Sendiri Apakah Benjolan Berbahaya
Ada anggapan bahwa benjolan kanker selalu keras, tidak dapat digerakkan, bentuknya tidak teratur, dan tidak terasa sakit.
Kenyataannya tidak sesederhana itu.
American Cancer Society (ACS), organisasi nirlaba di Amerika Serikat yang bergerak dalam penelitian, edukasi, advokasi, dan dukungan terkait kanker, menjelaskan bahwa benjolan kanker payudara memang lebih sering terasa keras dan memiliki tepi yang tidak teratur.
Namun, kanker payudara juga dapat muncul sebagai benjolan yang terasa lunak, bulat, nyeri, atau memiliki karakteristik berbeda.
Artinya, meraba benjolan saja tidak cukup untuk menentukan apakah suatu benjolan jinak atau ganas.
WHO juga mencantumkan benjolan atau penebalan pada payudara, yang sering kali tidak terasa sakit, sebagai salah satu gejala kanker payudara.
Karena itu, jangan menggunakan rasa sakit sebagai patokan.
Benjolan yang terasa sakit belum tentu kanker. Sebaliknya, benjolan yang tidak sakit juga bukan alasan untuk membiarkannya.
Perhatikan Apa yang Berubah dari Kondisi Normal Payudara Anda
Setiap orang memiliki bentuk dan tekstur payudara yang berbeda. Bahkan payudara kanan dan kiri tidak selalu memiliki ukuran atau tekstur yang sama persis.
Karena itu, yang penting adalah mengenali apa yang biasanya normal bagi tubuh Anda.
Ketika menemukan benjolan, coba perhatikan:
- apakah benjolan tersebut baru;
- apakah terasa berbeda dari jaringan di sekitarnya;
- apakah ukurannya berubah;
- apakah terdapat benjolan atau pembengkakan di ketiak; dan
- apakah ada perubahan lain pada payudara atau puting.
Tidak perlu memencet atau meraba benjolan berkali-kali sepanjang hari untuk memastikan keberadaannya.
Selain benjolan, perubahan lain yang perlu diperhatikan antara lain kulit payudara yang berlesung atau tertarik, perubahan ukuran atau bentuk payudara, puting yang baru tertarik ke dalam, perubahan kulit di sekitar puting, serta cairan tidak biasa dari puting, terutama jika mengandung darah.
National Health Service (NHS), layanan kesehatan publik di Inggris, juga menganjurkan pemeriksaan medis apabila terdapat benjolan atau perubahan pada payudara, dada, puting, maupun ketiak yang tidak normal bagi orang tersebut.
Apakah Bisa Menunggu Sampai Menstruasi Berikutnya?
Perubahan hormon selama siklus menstruasi memang dapat membuat payudara terasa lebih penuh, nyeri, atau berbeda dari biasanya.
Namun, bila Anda menemukan benjolan baru yang jelas berbeda dari jaringan di sekitarnya, jangan menunda pemeriksaan semata-mata untuk menunggu menstruasi berikutnya.
Terlebih jika benjolan tetap ada, semakin besar, atau disertai perubahan lain pada payudara.
WHO menyatakan bahwa orang yang menemukan benjolan payudara abnormal sebaiknya mencari pertolongan medis meskipun benjolan tersebut tidak menimbulkan rasa sakit.
Pesannya sederhana:
Tidak perlu menunggu sampai benjolan menjadi besar atau sakit.
Mengapa Benjolan Sebaiknya Diperiksa Lebih Awal?
Sebagian besar benjolan payudara memang bukan kanker.
Namun, pemeriksaan diperlukan karena penyebab benjolan tidak dapat dipastikan hanya dengan merabanya sendiri.
Jika ternyata ditemukan kanker, diagnosis yang lebih dini mempunyai keuntungan penting.
WHO menjelaskan bahwa benjolan payudara yang merupakan kanker memiliki peluang lebih baik untuk ditangani ketika ukurannya masih kecil dan belum menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya.
Itulah alasan pemeriksaan dini penting.
Bukan karena setiap benjolan dianggap kanker, tetapi karena kita perlu mengetahui apa sebenarnya penyebab benjolan tersebut.
Ke Mana Sebaiknya Memeriksakan Diri?
Pemeriksaan dapat dimulai di puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan.
Di Indonesia dikenal SADANIS atau Pemeriksaan Payudara Klinis, yaitu pemeriksaan payudara yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa apabila seorang perempuan menemukan kelainan saat melakukan SADARI atau ketika memperhatikan kondisi payudaranya, ia dapat melanjutkan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan SADANIS.
Tenaga kesehatan kemudian dapat menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut atau rujukan.
Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa ketika sudah terdapat benjolan atau gejala, tujuan pemeriksaan bukan lagi sekadar skrining rutin.
WHO membedakan dua hal dalam deteksi dini kanker payudara:
Diagnosis dini dilakukan ketika seseorang sudah menemukan tanda atau gejala, kemudian menjalani evaluasi klinis dan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya.
Sementara skrining dilakukan pada orang yang tampak sehat dan belum mempunyai tanda atau gejala, dengan tujuan menemukan kelainan sebelum menimbulkan keluhan.
Karena itu, bila sudah menemukan benjolan, jangan hanya menunggu jadwal skrining berikutnya.
Apa yang Akan Dilakukan Dokter?
Datang untuk memeriksakan benjolan tidak berarti seseorang akan langsung dinyatakan mengalami kanker.
Pemeriksaan biasanya dimulai dengan percakapan mengenai keluhan.
Dokter atau tenaga kesehatan dapat menanyakan kapan benjolan pertama kali disadari, apakah ukurannya berubah, apakah terasa nyeri, apakah ada cairan dari puting, bagaimana riwayat menstruasi, serta apakah terdapat riwayat kanker payudara atau kanker ovarium dalam keluarga.
Setelah itu, payudara dan daerah ketiak dapat diperiksa secara langsung.
Jika dibutuhkan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan pencitraan seperti USG payudara atau mammografi.
Jenis pemeriksaan yang diperlukan tidak selalu sama pada setiap orang. Pilihannya disesuaikan dengan usia, temuan pada pemeriksaan klinis, karakteristik benjolan, serta kondisi masing-masing pasien.
NHS menjelaskan bahwa evaluasi benjolan payudara dapat meliputi pemeriksaan payudara, mammografi atau USG, dan bila diperlukan, biopsi.
Apakah Menjalani Biopsi Berarti Sudah Pasti Kanker?
Tidak.
Biopsi adalah pemeriksaan untuk membantu menentukan diagnosis, bukan pernyataan bahwa seseorang sudah pasti mengalami kanker.
Dalam biopsi, dokter mengambil sampel sel atau jaringan dari area yang perlu diperiksa lebih lanjut. Sampel tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui sifat jaringan tersebut.
Tidak semua benjolan membutuhkan biopsi.
Dokter akan menentukan pemeriksaan berdasarkan hasil pemeriksaan klinis dan pencitraan sebelumnya.
Karena itu, jika dokter merekomendasikan biopsi, jangan langsung menyimpulkan bahwa hasilnya pasti kanker.
Tujuannya justru memperoleh jawaban yang lebih pasti mengenai jenis kelainan yang ditemukan.
Bagaimana Jika Ternyata Bukan Kanker?
Hal ini cukup sering terjadi.
NHS menjelaskan bahwa sebagian besar benjolan payudara bersifat tidak berbahaya. Dua penyebab yang cukup umum adalah fibroadenoma dan kista payudara.
Fibroadenoma adalah pertumbuhan jaringan payudara yang bersifat jinak atau bukan kanker.
Sementara kista payudara merupakan kantong berisi cairan yang dapat terbentuk di dalam jaringan payudara.
Penanganannya dapat berbeda-beda. Ada benjolan yang cukup dipantau, ada yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan, dan ada pula yang memerlukan tindakan tertentu berdasarkan ukuran, keluhan, atau karakteristiknya.
Inilah alasan pemeriksaan tetap berguna meskipun sebagian besar benjolan bukan kanker.
Memeriksakan benjolan bukan berarti menganggap diri sendiri pasti menderita kanker. Pemeriksaan dilakukan agar tidak terus hidup dengan dugaan.
Jangan Menunggu Sampai Benjolan Terasa Sakit
Salah satu alasan seseorang menunda pemeriksaan adalah:
“Tidak sakit, jadi mungkin tidak apa-apa.”
Padahal rasa sakit bukan ukuran yang dapat digunakan untuk memastikan apakah benjolan berbahaya atau tidak.
WHO menyebut salah satu gejala kanker payudara adalah benjolan atau penebalan pada payudara yang sering kali tidak terasa sakit.
Karena itu, jangan menunggu muncul rasa nyeri sebelum melakukan pemeriksaan.
Begitu pula dengan ukuran.
Benjolan yang masih kecil bukan alasan untuk membiarkannya tanpa evaluasi.
Jika ternyata penyebabnya bukan kanker, pemeriksaan dapat memberikan kepastian. Jika ternyata memerlukan penanganan lebih lanjut, pemeriksaan lebih awal memungkinkan proses diagnosis dimulai lebih cepat.
Mengenali Perubahan Lebih Penting daripada Menebak Penyebabnya
Menemukan benjolan di payudara memang dapat menimbulkan rasa takut.
Namun, dua respons ekstrem sama-sama kurang membantu: langsung menganggapnya kanker atau memilih mengabaikannya karena tidak terasa sakit.
Langkah yang lebih sederhana adalah:
Sebagian besar benjolan payudara bukan kanker.
Tetapi kita tidak dapat mengetahui penyebabnya hanya dengan bentuk, ukuran, rasa sakit, atau cerita pengalaman orang lain.
Kenali perubahan tubuh Anda, lalu cari tahu penyebabnya melalui pemeriksaan yang tepat.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. (2026, 3 Juli). Breast cancer. WHO Fact Sheet.
- World Health Organization. (2023, 7 Maret). Global Breast Cancer Initiative Implementation Framework: Assessing, Strengthening and Scaling-up of Services for the Early Detection and Management of Breast Cancer.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 19 Agustus). Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Kanker Payudara. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/657/2026.
- Unit Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Deteksi Dini Kanker Payudara dengan SADARI dan SADANIS.
- American Cancer Society. (2026, 23 Juli). Signs and Symptoms of Breast Cancer.
- National Health Service. Breast lumps.
- National Health Service. (2024, 19 Juli). How to check your breasts or chest.