YKKI
10 Tahun YKKI

YKKI.ORG

Melayani, menguatkan, dan berjalan bersama pasien kanker.

Memuat...
Skip to content
Home Program Donasi Tentang
kesehatan

Perdarahan Setelah Berhubungan Intim: Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?

Y
YKKI
9 dilihat
Perdarahan Setelah Berhubungan Intim: Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?

tidak perlu langsung memikirkan kemungkinan terburuk. Tetapi perdarahan yang tidak biasa juga sebaiknya tidak terus diabaikan.

Menstruasi sudah selesai. Namun, setelah berhubungan intim muncul bercak darah yang sebelumnya tidak ada.

Wajar jika pikiran langsung bertanya, “Apakah ini tanda kanker serviks?”

Perdarahan saat atau setelah berhubungan seksual dikenal sebagai perdarahan pascahubungan seksual atau postcoital bleeding. Kondisi ini memang dapat menjadi salah satu gejala kanker serviks. 

Kementerian Kesehatan RI memasukkan perdarahan setelah berhubungan seksual sebagai salah satu bentuk perdarahan vagina tidak normal yang perlu diperhatikan.

Namun, munculnya darah setelah berhubungan tidak otomatis berarti kanker.

Ada banyak penyebab lain, seperti kekeringan vagina, gesekan, peradangan pada serviks, infeksi, polip, maupun perubahan jinak pada serviks.

Mayo Clinic, pusat medis akademik nirlaba di Amerika Serikat yang menjalankan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penelitian medis, menjelaskan bahwa perdarahan setelah berhubungan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi tersebut. Dengan demikian, Mayo Clinic digunakan dalam artikel ini sebagai salah satu sumber informasi medis, bukan sebagai promosi layanan kesehatan tertentu.

Jadi, tidak perlu langsung memikirkan kemungkinan terburuk. Tetapi perdarahan yang tidak biasa juga sebaiknya tidak terus diabaikan.

Mengapa Bisa Keluar Darah Setelah Berhubungan?

Darah yang terlihat setelah berhubungan tidak selalu berasal dari rahim. Sumber perdarahan dapat berada pada vagina, serviks atau leher rahim, maupun bagian lain dari sistem reproduksi.

Salah satu penyebabnya adalah gesekan ketika vagina kurang terlumasi. Gesekan dapat menyebabkan iritasi atau luka kecil sehingga muncul bercak darah.

Kekeringan vagina lebih sering terjadi setelah menopause akibat menurunnya kadar estrogen. Jaringan vagina menjadi lebih tipis dan kering sehingga lebih mudah mengalami iritasi dan perdarahan ringan ketika berhubungan.

Penyebab lainnya adalah servisitis, yaitu peradangan pada serviks. Servisitis dapat berkaitan dengan infeksi, termasuk klamidia atau gonore, dan dapat menimbulkan perdarahan setelah berhubungan, cairan vagina yang tidak biasa, maupun nyeri saat berhubungan.

Ada pula ektropion serviks, yaitu kondisi ketika jaringan yang biasanya berada di bagian dalam serviks tampak pada bagian luar. Jaringan tersebut lebih mudah berdarah ketika mengalami gesekan. Kondisi ini bukan kanker.

Polip serviks atau polip pada rahim juga dapat menyebabkan perdarahan. Sebagian besar polip serviks bersifat jinak atau bukan kanker.

Karena kemungkinan penyebabnya cukup banyak, penyebab perdarahan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan warna atau jumlah darah yang terlihat.

Apakah Bisa Menjadi Tanda Kanker Serviks?

Bisa. Tetapi sekali lagi, perdarahan setelah berhubungan bukan berarti seseorang pasti mengalami kanker serviks.

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa kanker serviks pada tahap awal sering tidak menunjukkan gejala. Ketika gejala muncul, salah satunya dapat berupa perdarahan vagina yang tidak normal, termasuk perdarahan setelah berhubungan seksual, di luar menstruasi, atau setelah menopause.

WHO juga mencantumkan perdarahan setelah hubungan seksual atau di antara periode menstruasi sebagai salah satu gejala yang dapat ditemukan pada kanker serviks, sekaligus mengingatkan bahwa gejala tersebut dapat disebabkan penyakit lain.

Artinya, kita tidak bisa menggunakan gejala ini untuk mendiagnosis diri sendiri.

Justru di sinilah pemeriksaan dibutuhkan: bukan untuk langsung menyimpulkan kanker, tetapi untuk mencari tahu penyebab perdarahannya.

Kalau Hanya Terjadi Sekali, Apakah Harus Langsung Panik?

Tidak perlu langsung panik.

Bercak darah ringan yang terjadi sekali dapat berkaitan dengan gesekan, kekeringan vagina, atau penyebab lain yang tidak berbahaya.

Namun, jangan menggunakan “cuma sedikit” sebagai satu-satunya alasan untuk mengabaikannya.

Mayo Clinic menganjurkan pemeriksaan jika perdarahan setelah berhubungan terus terjadi, membuat khawatir, atau terdapat kemungkinan infeksi menular seksual.

Sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika perdarahan kembali muncul, semakin banyak, berlangsung terus, disertai nyeri saat berhubungan atau nyeri panggul, terdapat cairan vagina yang berbeda atau berbau tidak biasa, terjadi di luar menstruasi, atau Anda sendiri merasa khawatir dengan perubahan tersebut.

Yang penting bukan hanya banyak atau sedikitnya darah, tetapi apakah perdarahan tersebut merupakan sesuatu yang baru, tidak biasa, dan terus berulang.

Setelah Menopause, Jangan Menganggapnya sebagai “Haid Lagi”

Bagian ini perlu mendapatkan perhatian khusus.

Jika seseorang telah menopause kemudian mengalami perdarahan vagina, termasuk setelah berhubungan seksual, sebaiknya lakukan pemeriksaan.

Setelah menopause, perubahan hormon memang dapat menyebabkan vagina menjadi lebih tipis, kering, dan mudah mengalami iritasi sehingga muncul bercak darah setelah hubungan seksual.

Namun, perdarahan setelah menopause juga dapat terjadi pada kondisi lain yang membutuhkan evaluasi.

Mayo Clinic menyarankan perempuan yang sudah menopause untuk menjalani pemeriksaan apabila mengalami perdarahan vagina kapan pun perdarahan tersebut muncul.

Kementerian Kesehatan juga memasukkan perdarahan setelah menopause sebagai salah satu perdarahan tidak normal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan kanker serviks.

Jadi, jika menstruasi telah berhenti karena menopause, munculnya darah kembali tidak sebaiknya dianggap sebagai menstruasi biasa.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter?

Datang dengan keluhan perdarahan setelah berhubungan tidak berarti seseorang akan langsung menjalani tindakan besar atau dinyatakan mengalami kanker.

Pemeriksaan biasanya dimulai dari percakapan mengenai keluhan.

Dokter dapat menanyakan kapan perdarahan terjadi, apakah baru sekali atau berulang, banyaknya darah, kapan menstruasi terakhir, apakah ada nyeri atau cairan vagina yang tidak biasa, penggunaan kontrasepsi, kemungkinan kehamilan, riwayat infeksi, serta kapan terakhir menjalani skrining kanker serviks.

Pemeriksaan fisik kemudian dapat dilakukan. Pada kondisi tertentu, dokter dapat melihat vagina dan serviks menggunakan alat bernama spekulum.

Jika diperlukan, pemeriksaan tambahan dapat dipertimbangkan untuk mencari kemungkinan infeksi, kehamilan, perubahan pada serviks, polip, atau penyebab lainnya.

Pemeriksaan yang dibutuhkan tidak sama pada setiap orang.

Skrining Serviks dan Pemeriksaan Gejala Itu Berbeda

Ini bagian yang sering menimbulkan kebingungan.

Pap smear, tes HPV, atau IVA digunakan dalam program skrining kanker serviks, yaitu pemeriksaan pada orang yang belum memiliki gejala.

Namun, seseorang yang sudah mengalami perdarahan tidak normal membutuhkan evaluasi terhadap gejalanya.

Jadi, jangan menunggu jadwal skrining berikutnya jika sudah terdapat perdarahan yang tidak biasa.

Riwayat hasil skrining sebelumnya tetap berguna bagi dokter, tetapi hasil skrining normal di masa lalu tidak berarti keluhan baru harus diabaikan.

Kementerian Kesehatan menganjurkan perempuan yang mengalami gejala seperti perdarahan vagina tidak normal untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kapan Harus Mencari Pertolongan Lebih Cepat?

Perdarahan ringan dan perdarahan berat tentu membutuhkan respons yang berbeda.

Jika darah keluar sangat banyak dan kondisi tubuh mulai terganggu, jangan menunggu jadwal konsultasi biasa.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), organisasi profesi dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Amerika Serikat, menyarankan pertolongan medis segera jika perdarahan 
membuat seseorang harus mengganti pembalut setiap jam selama lebih dari dua jam berturut-turut dan disertai gejala seperti pusing, kepala terasa ringan, sesak napas, atau nyeri dada.

Segera cari bantuan medis pula jika perdarahan disertai nyeri yang sangat berat, hampir pingsan atau pingsan, kelemahan yang berat, atau kondisi memburuk dengan cepat.

Jika ada kemungkinan sedang hamil dan mengalami perdarahan vagina, hubungi tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian. Perdarahan pada kehamilan mempunyai penyebab dan penanganan yang berbeda.

Tidak Perlu Malu Membicarakannya

Perdarahan setelah berhubungan termasuk keluhan yang terkadang membuat seseorang merasa malu.

Ada yang menunda pemeriksaan karena khawatir harus menjawab pertanyaan mengenai hubungan seksual, kontrasepsi, menstruasi, atau keputihan.

Padahal, bagi dokter dan tenaga kesehatan, pertanyaan tersebut merupakan bagian dari pemeriksaan medis.

Informasi yang disampaikan justru membantu mencari penyebab dengan lebih tepat.

Perdarahan juga tidak seharusnya langsung membuat seseorang menyalahkan pasangan atau menyimpulkan bahwa pasti terdapat infeksi menular seksual.

Infeksi memang salah satu kemungkinan, tetapi bukan satu-satunya penyebab.

Jangan Panik, tetapi Jangan Diabaikan

Melihat darah setelah berhubungan memang dapat menimbulkan kekhawatiran.

Namun, perdarahan tersebut tidak otomatis berarti kanker serviks. Kekeringan vagina, gesekan, servisitis, polip, dan berbagai kondisi lainnya dapat menyebabkan keluhan serupa.

Di sisi lain, perdarahan setelah berhubungan juga merupakan salah satu gejala yang dapat ditemukan pada kanker serviks.

Karena itu, pendekatan yang paling baik bukan panik atau menebak-nebak sendiri.

Perhatikan apakah perdarahan berulang, terus berlangsung, semakin banyak, disertai nyeri atau cairan vagina yang tidak biasa, atau terjadi setelah menopause.

Jika demikian, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan.

Tujuan pemeriksaan bukan untuk mencari alasan agar takut, tetapi untuk mengetahui dari mana perdarahan berasal dan apa penyebab sebenarnya.

Daftar Pustaka
  1. Promosi Kesehatan Tim Kerja Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2025, 25 Agustus). Gejala dan Penyebab Kanker Serviks Cervical Cancer yang Perlu Kita Ketahui. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, 6 April). Gak Perlu Takut, Yuk Deteksi Dini Kanker Serviks. Ayo Sehat.
  3. World Health Organization. (2024, 5 Maret). Human papillomavirus and cancer.
  4. Mayo Clinic. (2023, 20 Oktober). Vaginal bleeding after sex.
  5. Mayo Clinic. Vaginal atrophy: Symptoms and causes.
  6. Mayo Clinic. Cervicitis: Symptoms and causes.
  7. American College of Obstetricians and Gynecologists. Abnormal Uterine Bleeding.

Komentar (0)

Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.

Masuk / Daftar