YKKI
10 Tahun YKKI

YKKI.ORG

Melayani, menguatkan, dan berjalan bersama pasien kanker.

Memuat...
Skip to content
Home Program Donasi Tentang
kesehatan

Perdarahan Setelah Menopause: Mengapa Tidak Boleh Dianggap Haid Biasa?

Y
YKKI
6 dilihat
Perdarahan Setelah Menopause: Mengapa Tidak Boleh Dianggap Haid Biasa?

Jika seseorang sudah benar-benar mengalami menopause, perdarahan tersebut tidak lagi dianggap sebagai menstruasi biasa

Sudah lebih dari setahun tidak menstruasi. Lalu suatu hari muncul bercak darah di pakaian dalam.

Jumlahnya mungkin sangat sedikit. Warnanya bisa merah muda, merah, atau kecokelatan. 
Bahkan mungkin hanya terjadi sekali.

Lalu muncul pikiran:
“Apakah haid saya datang lagi?”

Jika seseorang sudah benar-benar mengalami menopause, perdarahan tersebut tidak lagi dianggap sebagai menstruasi biasa.

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa seorang perempuan dikatakan telah menopause apabila tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Karena itu, perdarahan yang muncul setelah periode tersebut disebut perdarahan pascamenopause atau postmenopausal bleeding.

Perdarahan setelah menopause tidak otomatis berarti kanker. Ada berbagai kondisi lain yang dapat menjadi penyebabnya. Namun, karena perdarahan tersebut juga dapat menjadi tanda kanker endometrium, kanker serviks, atau gangguan pada organ reproduksi lainnya, keluhan ini sebaiknya diperiksakan.

Bahkan jika darah hanya sedikit atau baru muncul satu kali.

Mengapa Setelah Menopause Tidak Ada “Haid Biasa” Lagi?

Menstruasi terjadi karena lapisan bagian dalam rahim atau endometrium mengalami perubahan selama siklus reproduksi kemudian luruh.

Ketika memasuki menopause, fungsi ovarium dan produksi hormon reproduksi menurun hingga siklus menstruasi berhenti.

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa menopause ditetapkan ketika menstruasi telah berhenti selama sedikitnya 12 bulan berturut-turut.

Sebelum periode tersebut, yaitu ketika masih dalam perimenopause, menstruasi memang dapat berubah. Jadwalnya bisa maju atau mundur dan darah dapat keluar lebih sedikit atau lebih banyak.

Namun, setelah benar-benar menopause, munculnya darah kembali tidak dianggap sebagai dimulainya siklus menstruasi baru.

Darah dapat berasal dari vagina, serviks atau leher rahim, maupun dari dalam rahim.

Karena itu, sumbernya perlu diketahui melalui pemeriksaan.

Apakah Perdarahan Setelah Menopause Selalu Berarti Kanker?

Tidak.

Ada beberapa penyebab nonkanker yang dapat menimbulkan perdarahan setelah menopause.

Penurunan hormon estrogen setelah menopause dapat menyebabkan jaringan vagina menjadi lebih tipis dan kering. Kondisi yang disebut atrofi vagina ini membuat jaringan lebih mudah mengalami iritasi atau perdarahan.

Polip pada serviks atau rahim juga dapat menyebabkan bercak darah. Sebagian besar polip bersifat jinak.

Penyebab lainnya adalah hiperplasia endometrium, yaitu kondisi ketika lapisan bagian dalam rahim mengalami penebalan berlebihan. Tidak semua hiperplasia merupakan kanker, tetapi beberapa jenis dapat menjadi kondisi prakanker sehingga membutuhkan penilaian lebih lanjut.

Penggunaan terapi hormon tertentu juga perlu disampaikan kepada dokter karena dapat memengaruhi pola perdarahan dan penilaian risiko.

Jadi, alasan perdarahan perlu diperiksa bukan karena dokter langsung menganggapnya kanker.

Justru pemeriksaan dilakukan karena berbagai penyebab dapat menimbulkan gejala yang sama.

Apa Hubungannya dengan Kanker Endometrium?

Kanker endometrium adalah kanker yang berkembang pada endometrium, yaitu lapisan paling dalam rahim.

Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) dalam Panduan Tata Laksana Kanker Endometrium 2025 menyebut bahwa kanker endometrium stadium awal sering menunjukkan gejala berupa perdarahan vagina yang abnormal, baik pada perempuan yang belum menopause maupun yang sudah menopause.

Pada perempuan pascamenopause, perdarahan vagina merupakan salah satu gejala yang sangat penting untuk diperhatikan.

Kementerian Kesehatan RI juga menyebut bahwa gejala utama kanker rahim dapat berupa perdarahan vagina tidak normal, terutama setelah menopause.

Salah satu keuntungan dari gejala ini adalah kanker endometrium dapat memberikan tanda ketika penyakit masih relatif dini. Karena itu, mengetahui penyebab perdarahan lebih awal mempunyai nilai penting.

Namun, perlu ditekankan kembali:
perdarahan setelah menopause bukan diagnosis kanker.

Gejala tersebut adalah alasan untuk melakukan pemeriksaan.

Perdarahan Juga Bisa Berasal dari Serviks

Ada alasan lain mengapa seseorang tidak sebaiknya langsung menyimpulkan sumber perdarahan berasal dari rahim.

Kementerian Kesehatan RI juga mencantumkan perdarahan setelah menopause sebagai salah satu gejala kanker serviks.

Artinya, darah yang terlihat di pakaian dalam belum memberitahu kita dengan pasti dari organ mana perdarahan berasal.

Dokter perlu menilai vagina, serviks, rahim, riwayat kesehatan, obat yang digunakan, serta kondisi lainnya.

Inilah alasan pemeriksaan jauh lebih berguna dibanding menebak berdasarkan warna atau banyaknya darah.

Kalau Hanya Bercak Sekali, Apakah Tetap Perlu Periksa?
Ya.

Jangan menggunakan jumlah darah sebagai satu-satunya ukuran apakah kondisi tersebut penting atau tidak.

Perdarahan pascamenopause dapat berupa:
  • bercak yang sangat sedikit;
  • darah merah muda;
  • darah merah;
  • bercak kecokelatan; atau
  • cairan vagina yang bercampur darah.

Walaupun baru terjadi sekali, tetap sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Panduan HOGI 2025 menganjurkan perempuan yang sudah menopause untuk melaporkan perdarahan vagina, bercak atau spotting, maupun cairan yang tidak biasa 
kepada dokter agar mendapatkan penilaian yang tepat.

Tidak perlu menunggu sampai perdarahan muncul untuk kedua atau ketiga kalinya.

Bagaimana Jika Sedang Menggunakan Terapi Hormon?

Sebagian perempuan menggunakan terapi hormon untuk membantu mengatasi keluhan menopause.

Jika Anda menggunakannya, informasikan kepada dokter jenis terapi, kapan mulai digunakan, dan kapan perdarahan muncul.

Jangan langsung berasumsi bahwa darah tersebut pasti hanya efek terapi hormon.

Panduan HOGI memasukkan riwayat terapi estrogen atau terapi pengganti estrogen sebagai salah satu informasi yang perlu diperhatikan ketika menilai risiko kanker endometrium.

Kementerian Kesehatan juga menganjurkan penggunaan terapi hormon pascamenopause dibicarakan dengan dokter sehingga manfaat dan risikonya dapat dinilai berdasarkan kondisi masing-masing.

Jangan menghentikan terapi hormon sendiri hanya karena muncul bercak. Hubungi dokter yang menangani untuk mendapatkan evaluasi.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter?

Pemeriksaan biasanya dimulai dengan percakapan mengenai keluhan.

Dokter dapat menanyakan:
kapan menstruasi terakhir terjadi, kapan perdarahan muncul, seberapa banyak darah yang keluar, apakah pernah terjadi sebelumnya, apakah terdapat nyeri atau cairan vagina yang tidak biasa, serta obat atau terapi hormon yang sedang digunakan.

Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan vagina dan serviks.

Jika perlu menilai rahim dan endometrium, salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan adalah USG transvaginal, yaitu pemeriksaan ultrasonografi melalui vagina untuk melihat rahim, endometrium, dan struktur di sekitarnya.

Panduan HOGI 2025 mencantumkan pemeriksaan penunjang kanker endometrium berupa ultrasonografi, termasuk USG transvaginal, serta pemeriksaan jaringan endometrium.

Apakah Semua Orang Harus Menjalani Biopsi?

Tidak selalu.

Pemeriksaan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Namun, bila dokter menemukan hal yang memerlukan penilaian lebih lanjut, dapat dilakukan biopsi endometrium, yaitu mengambil sedikit sampel jaringan dari lapisan rahim untuk diperiksa secara histopatologi.

Panduan HOGI mencantumkan beberapa metode evaluasi yang dapat digunakan sesuai indikasi, antara lain:
USG transvaginal, biopsi endometrium, kuretase, dan histeroskopi diagnostik dengan atau tanpa biopsi terarah.

Histeroskopi menggunakan alat tipis berkamera untuk melihat bagian dalam rahim secara langsung.

Tidak berarti setiap perempuan dengan bercak darah harus menjalani seluruh pemeriksaan tersebut. Dokter akan menentukan pemeriksaan berdasarkan riwayat, temuan awal, faktor risiko, serta pola perdarahannya.

Pap Smear Tidak Bisa Menggantikan Pemeriksaan Endometrium

Ini merupakan salah satu hal yang sering disalahpahami.

Pap smear terutama digunakan untuk memeriksa perubahan sel pada serviks atau leher rahim.

Pemeriksaan tersebut bukan pemeriksaan skrining utama untuk kanker endometrium.

National Cancer Institute menjelaskan bahwa Pap smear tidak digunakan untuk skrining kanker endometrium, walaupun dalam beberapa keadaan sel abnormal dari endometrium dapat secara tidak sengaja terdeteksi.

Panduan HOGI juga menyatakan bahwa tidak tersedia pemeriksaan skrining rutin standar kanker endometrium untuk perempuan tanpa gejala pada populasi umum.

Karena itu, pendekatan pada kanker endometrium sangat mengandalkan kesadaran terhadap gejala.

Jika seseorang sudah mengalami perdarahan setelah menopause, yang dibutuhkan bukan sekadar menunggu jadwal Pap smear berikutnya, tetapi evaluasi terhadap sumber perdarahan tersebut.

Kapan Harus Mencari Pertolongan Lebih Cepat?

Perdarahan ringan setelah menopause tetap perlu dijadwalkan untuk diperiksa.

Namun, carilah pertolongan lebih cepat jika perdarahan menjadi banyak atau disertai:
  • tubuh sangat lemas;
  • pusing berat;
  • hampir pingsan atau pingsan;
  • nyeri panggul atau perut yang berat;
  • kondisi tubuh memburuk dengan cepat; atau
  • gejala lain yang terasa berat.

Beritahukan pula kepada dokter jika terdapat cairan vagina yang tidak biasa, nyeri panggul yang menetap, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Informasi tersebut dapat membantu menentukan pemeriksaan yang diperlukan.

Jangan Menunggu “Haid Berikutnya”

Salah satu kesalahpahaman yang perlu dihindari adalah menunggu satu atau dua bulan untuk mengetahui apakah darah akan muncul lagi seperti menstruasi.

Jika sudah tidak mengalami menstruasi selama sedikitnya 12 bulan dan kemudian darah muncul kembali, cara berpikirnya harus berbeda.

Itu bukan haid yang terlambat datang. Itu adalah perdarahan setelah menopause yang perlu dicari penyebabnya.

Penyebabnya mungkin merupakan kondisi jinak yang dapat ditangani.

Namun, karena kanker endometrium, kanker serviks, dan kondisi lain juga dapat memberikan gejala serupa, mengetahui penyebabnya lebih awal jauh lebih bermanfaat daripada terus menebak-nebak.

Jadi, jika suatu hari setelah menopause muncul bercak darah, ingat satu pesan sederhana:
tidak perlu langsung menganggapnya kanker, tetapi jangan pula menganggapnya sebagai haid biasa.

Buatlah janji dengan tenaga kesehatan dan cari tahu penyebabnya.

Daftar Pustaka
  1. Tim Promkes RSST RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2022, 25 Juli). Menopause. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  2. Promosi Kesehatan Tim Kerja Hukum dan Humas RSST RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2024, 14 Mei). Pengetahuan Persiapan Sebelum Menopause. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  3. Promosi Kesehatan Tim Kerja Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2024, 19 November). Perubahan Hormonal pada Masa Menopause. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  4. Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2026, 6 Agustus). Saat Rahim Memberi Sinyal: Kenali Kanker Serviks dan Kanker Rahim Sejak Dini. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  5. Promosi Kesehatan Tim Kerja Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2025, 25 Agustus). Gejala dan Penyebab Kanker Serviks (Cervical Cancer) yang Perlu Kita Ketahui. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  6. Tim Promkes RSST RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2022, 25 Juli). Adenomiosis. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  7. Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia. (2025). Panduan Tata Laksana Kanker Endometrium 2025.
  8. Humas RSUP Dr. Kariadi Semarang. (2026, 4 Juni). RSUP Dr Kariadi Gelar Workshop Kegawatdaruratan Sistem Reproduksi dan Onkologi Ginekologi. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  9. National Cancer Institute. (2025, 6 Mei). Endometrial Cancer Screening.
  10. National Health Service. (2026, 19 Mei). Symptoms of Menopause and Perimenopause.

Komentar (0)

Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.

Masuk / Daftar