YKKI
10 Tahun YKKI

YKKI.ORG

Melayani, menguatkan, dan berjalan bersama pasien kanker.

Memuat...
Skip to content
Home Program Donasi Tentang
kesehatan

Tes HPV, Pap Smear, atau IVA: Mana yang Tepat untuk Skrining Kanker Serviks ?

Y
YKKI
16 dilihat
Tes HPV, Pap Smear, atau IVA: Mana yang Tepat untuk Skrining Kanker Serviks ?

Jangan Menunda Skrining Hanya karena Bingung Memilih Tes

Tes HPV, Pap smear, dan IVA. Tiga nama ini sering muncul ketika membicarakan skrining kanker serviks.

Lalu muncul pertanyaan, “Mana yang sebaiknya saya pilih? Apakah harus melakukan ketiganya?”

Tidak selalu.

Ketiganya dapat digunakan dalam upaya mendeteksi risiko atau perubahan pada serviks, tetapi yang dicari dan cara pemeriksaannya berbeda.

Sederhananya, tes HPV mencari HPV berisiko tinggi, Pap smear mencari perubahan pada sel serviks, sedangkan IVA melihat perubahan yang tampak pada permukaan serviks setelah diberikan asam asetat.

Saat ini World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemeriksaan HPV sebagai metode utama yang diprioritaskan untuk skrining kanker serviks. WHO pada 2026 juga menerbitkan panduan khusus untuk membantu negara menerapkan program skrining berbasis HPV.

Namun, ini tidak berarti Pap smear dan IVA tidak berguna. Metode yang digunakan dapat bergantung pada program kesehatan, fasilitas yang tersedia, hasil pemeriksaan sebelumnya, serta kondisi masing-masing orang.

1. Tes HPV: Mencari Virus Berisiko Tinggi

Sebagian besar kanker serviks berkaitan dengan infeksi human papillomavirus (HPV) berisiko tinggi yang menetap dalam waktu lama.

Tes HPV bekerja dengan mencari materi genetik HPV berisiko tinggi pada sampel yang diperiksa.

Jadi, yang dicari bukan sel kanker, melainkan keberadaan jenis HPV yang berkaitan dengan risiko terjadinya perubahan prakanker dan kanker serviks.

Inilah salah satu alasan mengapa WHO memprioritaskan tes HPV sebagai metode skrining primer. WHO menyebut tes HPV DNA lebih efektif dibandingkan sitologi atau IVA sebagai pemeriksaan primer dalam mencegah kanker serviks dalam program skrining.

IARC juga menyimpulkan bahwa pemeriksaan HPV DNA memiliki efektivitas lebih tinggi dibandingkan sitologi, IVA, maupun co-testing dalam perbandingan metode skrining yang dievaluasi.

Namun, ada hal penting yang perlu dipahami:
Hasil HPV positif bukan berarti seseorang sudah terkena kanker serviks.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa HPV berisiko tinggi terdeteksi. Tenaga kesehatan kemudian menentukan tindak lanjut berdasarkan jenis HPV yang ditemukan, hasil pemeriksaan lainnya, serta kondisi pasien.

WHO pada 2026 bahkan menerbitkan panduan baru mengenai penggunaan genotipe HPV, yaitu mengidentifikasi jenis HPV tertentu untuk membantu menilai tingkat risiko dan menentukan tindak lanjut yang sesuai.

Tes HPV Bisa Menggunakan Sampel yang Diambil Sendiri

Salah satu perkembangan penting dalam skrining kanker serviks adalah self-sampling atau pengambilan sampel secara mandiri untuk pemeriksaan HPV.

Pada metode ini, perempuan dapat mengambil sampel sendiri menggunakan alat yang telah disediakan, dengan petunjuk dan pendampingan yang sesuai. Sampel kemudian diperiksa untuk mengetahui keberadaan HPV berisiko tinggi.

Perlu digarisbawahi bahwa self-sampling ini digunakan untuk pemeriksaan HPV, bukan untuk melakukan Pap smear atau IVA sendiri.

Pada Januari 2026, Kementerian Kesehatan RI mengumumkan integrasi skrining kanker leher rahim melalui DNA HPV dan self-sampling dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Tujuannya antara lain meningkatkan akses dan 
partisipasi perempuan dalam skrining.

2. Pap Smear: Melihat Perubahan pada Sel Serviks

Pap smear bekerja dengan cara berbeda.

Pada pemeriksaan ini, tenaga kesehatan mengambil sampel sel dari serviks. Sampel kemudian diperiksa di laboratorium untuk melihat apakah terdapat sel yang mengalami perubahan abnormal.

Perbedaannya dapat dibayangkan sederhana:

Tes HPV bertanya: “Apakah ada HPV berisiko tinggi?”

Sedangkan:

Pap smear bertanya: “Apakah sel serviks menunjukkan perubahan yang tidak normal?”

IARC menyimpulkan bahwa skrining menggunakan sitologi konvensional maupun sitologi berbasis cairan terbukti dapat menurunkan kejadian dan kematian akibat kanker serviks.

Pap smear karena itu bukan pemeriksaan yang “salah” atau sudah tidak berguna hanya karena saat ini tes HPV lebih diprioritaskan sebagai metode primer.

Namun, hasil Pap smear yang abnormal juga tidak otomatis berarti kanker.

National Cancer Institute (NCI) menjelaskan bahwa sebagian besar orang dengan hasil skrining serviks abnormal tidak ditemukan menderita kanker. Hasil tersebut sering berkaitan dengan infeksi HPV atau perubahan sel awal yang dapat dipantau atau ditangani.

3. IVA: Melihat Perubahan pada Permukaan Serviks

IVA merupakan singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat.

Dalam pemeriksaan ini, tenaga kesehatan mengoleskan larutan asam asetat pada serviks kemudian mengamati apakah terdapat area yang menunjukkan perubahan tertentu.

Keunggulan IVA adalah pemeriksaannya relatif sederhana, tidak membutuhkan pemeriksaan laboratorium untuk mendapatkan hasil awal, dan hasil dapat diketahui segera.

Karena itu, IVA memiliki peran penting terutama pada layanan kesehatan dengan akses laboratorium yang terbatas.

Namun, berbeda dari tes HPV yang menggunakan pemeriksaan laboratorium, IVA bergantung pada pengamatan tenaga kesehatan yang telah terlatih.

IARC menyimpulkan bahwa IVA terbukti dapat menurunkan kematian akibat kanker serviks, meskipun bukti penurunan kejadian kanker serviks lebih lemah dibandingkan beberapa metode lain. Sementara tes HPV DNA menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi ketika dibandingkan dengan IVA maupun sitologi.

Bagaimana Penggunaannya di Indonesia?

Kementerian Kesehatan RI juga mengenal DNA HPV, Pap smear, dan IVA sebagai metode untuk deteksi dini kanker serviks. Ayo Sehat Kemenkes mencantumkan ketiganya dan menyebut tes DNA HPV sebagai metode yang direkomendasikan WHO untuk skrining kanker serviks.

Kebijakan Indonesia juga terus berkembang mengikuti penggunaan pemeriksaan berbasis HPV.

Pada 2023, Kementerian Kesehatan menetapkan program percontohan deteksi dini kanker leher rahim menggunakan DNA HPV dan IVA secara bersama atau co-testing.

Kemudian pada 2026, Petunjuk Teknis Cek Kesehatan Gratis kembali memasukkan DNA HPV dan IVA ke dalam alur pemeriksaan kanker leher rahim, termasuk tindak lanjut yang berbeda berdasarkan hasil DNA HPV dan IVA.

Artinya, praktik yang ditemui di fasilitas kesehatan dapat berbeda tergantung program yang sedang dijalankan dan fasilitas yang tersedia.

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Jika pertanyaannya adalah metode mana yang saat ini diprioritaskan untuk skrining primer, jawabannya adalah tes HPV berkinerja tinggi, bila tersedia dan terdapat sistem tindak lanjut yang memadai. WHO secara jelas merekomendasikan pendekatan berbasis HPV sebagai metode utama untuk program skrining kanker serviks.

Tetapi itu tidak berarti semua orang harus mencari tes HPV sendiri atau bahwa pemeriksaan lain tidak berguna.

Pap smear tetap dapat mendeteksi perubahan sel serviks. IVA tetap mempunyai peran dalam pelayanan kesehatan, termasuk dalam program dan tindak lanjut tertentu di Indonesia.

Yang lebih penting adalah skrining dilakukan menggunakan metode yang sesuai dan hasilnya ditindaklanjuti dengan benar.

Daripada datang ke fasilitas kesehatan dengan mengatakan, “Saya harus memilih tes yang mana?”, pertanyaan yang lebih berguna adalah:
“Metode skrining kanker serviks apa yang tersedia dan sesuai untuk kondisi saya?”

Apakah Harus Melakukan Ketiganya Sekaligus?

Tidak.

Seseorang tidak perlu melakukan tes HPV, Pap smear, dan IVA sekaligus hanya karena ingin mendapatkan pemeriksaan yang dianggap “lebih lengkap”.

Dalam program tertentu memang terdapat co-testing, yaitu penggunaan lebih dari satu metode secara bersamaan atau berurutan sesuai algoritma pemeriksaan.

Di Indonesia, misalnya, pemerintah pernah menjalankan program co-testing DNA HPV dan IVA.

Pada situasi lain, satu pemeriksaan dapat digunakan terlebih dahulu dan tes lainnya baru dilakukan berdasarkan hasilnya.

Karena itu, melakukan lebih banyak tes tidak selalu berarti skrining menjadi lebih baik. Pemilihan pemeriksaan sebaiknya mengikuti pedoman dan rekomendasi tenaga kesehatan.

Kalau Hasilnya Positif atau Abnormal, Apakah Berarti Kanker?

Tidak.

Ini mungkin bagian yang paling penting untuk dipahami sebelum menjalani skrining.

Hasil HPV positif berarti ditemukan HPV berisiko tinggi.

Hasil Pap smear abnormal berarti ditemukan sel serviks yang tampak berbeda dari normal.

Sedangkan IVA positif berarti terlihat perubahan pada serviks setelah pemberian asam asetat yang memerlukan penilaian atau tindak lanjut sesuai protokol.

Ketiganya bukan diagnosis kanker.

NCI menjelaskan bahwa sebagian besar orang yang memperoleh hasil skrining serviks abnormal tidak ditemukan mengalami kanker. Sering kali yang ditemukan adalah infeksi HPV atau perubahan awal pada sel yang masih dapat 
dipantau atau ditangani.

Dalam program CKG 2026 di Indonesia, hasil DNA HPV maupun IVA juga memiliki alur tindak lanjut masing-masing. Hasil tertentu dapat diikuti dengan pemeriksaan ulang, IVA, tindakan terhadap perubahan prakanker, atau rujukan bila ditemukan kecurigaan kanker.

Karena itu, setelah menjalani skrining, jangan berhenti hanya pada menerima hasil.

Tindak lanjut adalah bagian dari skrining itu sendiri.

Jangan Menunda Skrining Hanya karena Bingung Memilih Tes

Banyaknya istilah kadang justru membuat pemeriksaan terdengar rumit.

Padahal, perbedaannya dapat diingat dengan sederhana:

Tes HPV mencari virus berisiko tinggi. Pap smear mencari perubahan pada sel. IVA melihat perubahan pada permukaan serviks.

Saat ini pemeriksaan HPV menjadi metode yang diprioritaskan WHO untuk skrining primer, sementara Pap smear dan IVA tetap dapat digunakan sesuai sistem pelayanan dan kondisi yang tersedia.

Tidak perlu menentukan semuanya sendiri.

Jika Anda sudah termasuk kelompok sasaran skrining kanker serviks, tanyakan kepada puskesmas atau fasilitas kesehatan mengenai pemeriksaan yang tersedia dan sesuai.

Karena metode memang penting, tetapi ada satu hal yang lebih penting lagi:
skrining dilakukan pada waktu yang tepat, dan setiap hasil yang membutuhkan tindak lanjut benar-benar ditindaklanjuti.

Daftar Pustaka
  1. World Health Organization. (2026, 14 Juli). Evidence-informed Guidance for the Implementation of HPV-based Cervical Cancer Screening Programmes.
  2. World Health Organization. (2026, 8 Mei). WHO Guideline for Screening and Treatment of Cervical Pre-cancer Lesions for Cervical Cancer Prevention: Use of Human Papillomavirus (HPV) DNA Genotyping.
  3. World Health Organization. (2021, 6 Juli). New Recommendations for Screening and Treatment to Prevent Cervical Cancer.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 27 Januari). Skrining Kanker Leher Rahim Terintegrasi Program CKG, Pemerintah Perluas Akses DNA HPV dan Self-Sampling.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/84/2026 tentang Petunjuk Teknis Cek Kesehatan Gratis.
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim). Ayo Sehat.
  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/33/2023 tentang Penyelenggaraan Percontohan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dengan Tes DNA HPV dan Inspeksi Visual Asam Asetat (Co-Testing).
  8. International Agency for Research on Cancer. (2022). Cervical Cancer Screening. IARC Handbooks of Cancer Prevention, Volume 18.
  9. National Cancer Institute. HPV and Pap Test Results: Next Steps after an Abnormal Cervical Cancer Screening Test.

Komentar (0)

Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.

Masuk / Daftar