Bagi orang yang masih berusia 20-an, 30-an, atau 40-an, pikiran yang muncul mungkin:
Wasir memang merupakan salah satu penyebab BAB berdarah yang cukup sering ditemukan. Luka kecil pada anus, infeksi, atau radang usus juga dapat menyebabkan keluhan serupa.
Namun, usia muda tidak cukup untuk menentukan penyebabnya.
Kanker kolorektal memang masih lebih banyak terjadi pada orang berusia lebih tua, tetapi World Health Organization (WHO) mencatat bahwa beban penyakit pada orang dewasa usia 30–50 tahun meningkat di sejumlah wilayah.
Karena itu, pesannya bukan bahwa setiap BAB berdarah pada anak muda adalah kanker.
Pesannya adalah: jangan langsung memberi diagnosis “wasir” kepada diri sendiri jika perdarahan terus berulang atau disertai perubahan lain.
BAB Berdarah Memang Bisa Disebabkan Wasir
Wasir atau hemoroid adalah pelebaran dan peradangan pembuluh darah di area anus.
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa hemoroid internal dapat menyebabkan darah keluar setelah BAB, terkadang tanpa rasa nyeri. Hemoroid juga dapat disertai gatal, rasa tidak nyaman, pembengkakan, atau benjolan di sekitar anus.
Darah pada hemoroid umumnya tampak merah terang.
Penyebab lain yang cukup umum adalah fisura ani, yaitu luka atau robekan kecil pada anus. Kondisi ini sering terjadi setelah mengeluarkan tinja yang keras dan dapat menyebabkan darah segar serta nyeri ketika BAB.
Jadi, ketika melihat darah merah di toilet, kanker memang bukan satu-satunya kemungkinan.
Tetapi masalahnya adalah: warna darah saja tidak dapat memastikan penyebabnya.
Darah Merah Tidak Otomatis Berarti Wasir
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa BAB berdarah atau hematokezia dapat berasal dari berbagai kondisi.
Selain wasir dan fisura ani, penyebabnya dapat berupa:
- polip pada usus besar;
- radang usus seperti kolitis ulseratif atau penyakit Crohn;
- infeksi pada saluran pencernaan;
- peradangan pada rektum; atau
- kanker kolorektal.
Karena penyebabnya beragam, tidak aman menentukan diagnosis hanya dengan melihat warna darah.
Darah merah segar memang lebih sering mengarah pada sumber perdarahan di bagian bawah saluran pencernaan seperti anus, rektum, atau kolon. Namun, lokasi dan penyebab pastinya tetap membutuhkan penilaian medis.
Lalu, Kapan BAB Berdarah Mulai Perlu Diperhatikan?
Satu bercak kecil setelah BAB dengan tinja sangat keras mungkin mempunyai penjelasan sederhana seperti fisura ani atau hemoroid.
Namun, perhatian perlu meningkat jika perdarahan:
- terjadi kembali pada BAB berikutnya;
- terus berulang selama beberapa waktu;
- darah tampak bercampur dengan tinja;
- jumlahnya semakin banyak; atau
- disertai perubahan lain pada kesehatan.
Yayasan Gastroenterologi Indonesia menekankan bahwa BAB berdarah tidak sebaiknya dianggap ringan jika berulang, terutama bila disertai perubahan pola BAB, penurunan berat badan, atau anemia yang tidak jelas penyebabnya.
Jadi, bukan hanya pertanyaan “berapa banyak darahnya?” yang penting.
Perhatikan Perubahan Pola BAB
Kanker kolorektal tidak hanya dapat menimbulkan darah pada tinja.
Kementerian Kesehatan dan WHO juga mencantumkan perubahan pola buang air besar sebagai salah satu keluhan yang perlu diperhatikan.
Misalnya:
- diare yang terus berulang;
- sembelit yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya;
- rasa BAB belum tuntas;
- perubahan bentuk tinja yang menetap;
- nyeri atau kram perut yang terus terjadi; atau
- perut sering terasa tidak nyaman tanpa penyebab yang jelas.
Satu atau dua hari mengalami diare setelah mengonsumsi makanan tertentu tentu tidak otomatis berarti kanker.
Demikian pula sembelit sesekali.
Yang lebih penting adalah perubahan baru yang menetap atau terus kembali dan berbeda dari pola tubuh sebelumnya.
Jangan Hanya Memperhatikan Darah yang Terlihat
Kanker kolorektal juga dapat menyebabkan perdarahan sedikit demi sedikit yang tidak selalu mudah terlihat.
Jika berlangsung lama, kehilangan darah dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.
Akibatnya seseorang dapat mengalami:
- mudah lelah;
- tubuh terasa lemas;
- pucat;
- sering pusing;
- jantung terasa berdebar; atau
- mudah sesak ketika melakukan aktivitas.
WHO memasukkan anemia kekurangan zat besi akibat perdarahan kronis sebagai salah satu kemungkinan tanda kanker kolorektal.
Karena itu, pada orang yang mengalami anemia tanpa penyebab yang jelas, dokter juga dapat mempertimbangkan apakah terdapat kehilangan darah dari saluran pencernaan.
Ada Empat Tanda yang Diteliti pada Pasien Usia di Bawah 50 Tahun
Salah satu penelitian di Amerika Serikat yang dibahas National Cancer Institute menganalisis data lebih dari 5.000 pasien yang didiagnosis kanker kolorektal sebelum usia 50 tahun.
- perdarahan dari rektum;
- nyeri perut;
- diare; dan
- anemia akibat kekurangan zat besi.
Dari keempat tanda tersebut, perdarahan rektum mempunyai hubungan paling kuat dengan diagnosis kanker kolorektal usia muda.
Namun, hasil penelitian ini bukan berarti seseorang dengan diare, sakit perut, atau BAB berdarah otomatis mengalami kanker.
Penelitian tersebut menunjukkan hubungan pada kelompok pasien, bukan alat diagnosis untuk individu.
Diare dan nyeri perut jauh lebih sering terjadi karena kondisi lain.
Pesan praktisnya adalah: jika tanda tersebut tidak menghilang, terus berulang, atau muncul bersamaan, usia muda bukan alasan untuk menunda pemeriksaan.
Mengapa Kadang Terlambat Diperiksa pada Usia Muda?
Ada satu jebakan sederhana:
Pasien sendiri mungkin menganggap darah sebagai wasir. Nyeri perut dianggap masuk angin. Diare dianggap salah makan. Rasa lelah dianggap akibat pekerjaan.
Padahal, penelitian yang dibahas National Cancer Institute menunjukkan bahwa sebagian pasien usia muda sudah mengalami tanda tertentu beberapa bulan sebelum diagnosis.
Hal ini tidak berarti setiap keluhan pencernaan perlu dicurigai sebagai kanker.
Tetapi ketika keluhan berulang, menetap, atau membentuk pola yang tidak biasa, tidak tepat pula terus menganggapnya sebagai gangguan ringan tanpa evaluasi.
Faktor Apa yang Membuat Kita Perlu Lebih Waspada?
Untuk menentukan perlu tidaknya pemeriksaan, beberapa informasi tetap penting disampaikan kepada dokter.
Salah satunya adalah riwayat keluarga.
Jika orang tua, saudara kandung, atau anggota keluarga dekat pernah mengalami kanker kolorektal atau polip usus, terutama pada usia relatif muda, sampaikan informasi tersebut ketika berkonsultasi.
Riwayat penyakit radang usus kronis juga penting.
Namun, seseorang tidak harus mempunyai riwayat keluarga terlebih dahulu agar BAB berdarah layak diperiksa.
Gejala tetap perlu dinilai berdasarkan kondisi masing-masing.
Kalau Saya Masih Muda, Apakah Harus Langsung Kolonoskopi?
BAB berdarah tidak berarti setiap orang harus langsung menjalani kolonoskopi.
Pemeriksaan biasanya dimulai dengan menelusuri karakter keluhan.
Dokter dapat menanyakan:
Area anus juga dapat diperiksa untuk melihat kemungkinan hemoroid atau fisura.
Pemeriksaan darah dapat dilakukan jika dicurigai terdapat anemia.
Kolonoskopi menggunakan selang fleksibel berkamera untuk melihat bagian dalam usus besar. Jika ditemukan polip atau jaringan yang mencurigakan, dokter juga dapat mengambil sampel jaringan untuk diperiksa.
Skrining dan Pemeriksaan karena Sudah Ada Gejala Itu Berbeda
Ini bagian yang sangat penting.
Skrining kanker kolorektal dilakukan pada orang yang belum mempunyai gejala, dengan tujuan menemukan kelainan prakanker atau kanker lebih awal.
Situasinya berbeda jika seseorang sudah mengalami BAB berdarah.
Jika sudah terdapat perdarahan, perubahan BAB, anemia yang tidak jelas penyebabnya, atau keluhan mencurigakan lainnya, pemeriksaan bertujuan menemukan penyebab gejala atau menegakkan diagnosis.
Artinya, kalimat:
Gejala dapat dievaluasi pada usia berapa pun.
Kapan Harus Mencari Pertolongan Lebih Cepat?
BAB berdarah yang sedikit dan kondisi tubuh tetap stabil berbeda dengan perdarahan yang banyak.
Ayo Sehat Kementerian Kesehatan menganjurkan kewaspadaan jika perdarahan menjadi masif atau disertai:
- pucat;
- pusing berat;
- tubuh sangat lemas; atau
- pingsan.
Yayasan Gastroenterologi Indonesia juga menganjurkan evaluasi segera jika BAB berdarah disertai nyeri perut berat, muntah darah, atau penurunan kesadaran.
Dalam kondisi tersebut, jangan menunggu untuk melihat apakah darah akan berhenti sendiri.
Cari pertolongan medis.
Jangan Langsung Takut, tetapi Jangan Terlalu Cepat Menyebutnya Wasir
BAB berdarah pada orang muda mempunyai banyak kemungkinan penyebab.
Wasir dan fisura ani termasuk penyebab yang cukup sering. Infeksi dan penyakit radang usus juga dapat menimbulkan gejala serupa.
Karena itu, tidak perlu langsung menyimpulkan kanker ketika melihat sedikit darah.
Namun, ada satu kesimpulan lain yang juga sebaiknya dihindari:
Usia muda memang membuat kemungkinan kanker kolorektal lebih rendah dibandingkan pada usia lanjut.
Tetapi lebih rendah tidak berarti tidak mungkin.
Jika perdarahan terus berulang, pola BAB berubah, terdapat nyeri perut yang menetap, berat badan turun tanpa direncanakan, atau muncul anemia yang tidak jelas penyebabnya, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Tubuh tidak meminta kita menebak apakah penyebabnya wasir atau kanker.
Tubuh hanya memberikan tanda.
Tugas kita adalah tidak mengabaikan tanda yang terus muncul dan mencari tahu penyebabnya melalui pemeriksaan yang tepat.
Daftar Pustaka
- Anurogo, D. (2025, 11 Agustus). Berak Darah: Sinyal Tubuh yang Tidak Boleh Diabaikan. Ayo Sehat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2026, 26 Juni). Memahami Kapan Hemoroid Membutuhkan Tindakan Operasi. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Jeo, W. S. (2024, 28 Juni). Lebih Dalam Mengenal Kanker Usus Besar (Kolorektal). RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kanker Usus Besar. Ayo Sehat.
- Abdullah, M. (2026, 10 April). BAB Hitam atau BAB Berdarah: Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan. Yayasan Gastroenterologi Indonesia.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Kanker Kolorektal. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/406/2018.
- World Health Organization. (2026, 13 Februari). Colorectal cancer. WHO Fact Sheet.
- Wang, L. (2023, 15 Juni). Study Identifies Potential Warning Signs of Colorectal Cancer in Younger Adults. National Cancer Institute.