YKKI
10 Tahun YKKI

YKKI.ORG

Melayani, menguatkan, dan berjalan bersama pasien kanker.

Memuat...
Skip to content
Home Program Donasi Tentang
kesehatan

Fatty Liver (Perlemakan Hati), Diabetes, dan Risiko Kanker Hati: Apa Hubungannya?

Y
YKKI
7 dilihat
Fatty Liver (Perlemakan Hati), Diabetes, dan Risiko Kanker Hati: Apa Hubungannya?

perlemakan hati sering berkaitan erat dengan kondisi metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Ketika mendengar faktor risiko kanker hati, banyak orang mungkin langsung memikirkan hepatitis B, hepatitis C, atau konsumsi alkohol berlebihan.

Namun, ada jalur lain yang kini semakin mendapat perhatian: fatty liver atau perlemakan hati yang berkaitan dengan gangguan metabolik.

Perlemakan hati sering berjalan bersama obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, serta gangguan kadar lemak darah. Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat berkembang perlahan dari penumpukan lemak menjadi peradangan, jaringan parut, sirosis, hingga meningkatkan risiko kanker hati.

Masalahnya, proses ini sering berlangsung tanpa keluhan yang jelas.

Pada Mei 2026, World Health Assembly bahkan secara resmi mengakui steatotic liver disease atau penyakit hati berlemak sebagai masalah penyakit tidak menular global yang terus berkembang. WHO memperkirakan kondisi ini dialami sekitar 1,7 miliar orang di dunia dan berhubungan erat dengan obesitas, diabetes tipe 2, serta penyakit metabolik lainnya.

Jadi, kanker hati tidak lagi hanya perlu dibicarakan dalam konteks hepatitis.

Kesehatan metabolik juga menjadi bagian penting dari kesehatan hati.

Fatty Liver atau Perlemakan Hati: Apa Maksudnya?

Istilah fatty liver cukup sering digunakan dalam percakapan sehari-hari maupun ketika seseorang mendapatkan hasil USG.

Dalam bahasa Indonesia, kondisi ini disebut perlemakan hati, yaitu penumpukan lemak berlebih di jaringan hati.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa perlemakan hati sering berkaitan dengan obesitas terutama di sekitar perut, diabetes, gangguan kadar lemak darah, tekanan darah tinggi, pola makan tidak sehat, serta kurang aktivitas fisik.

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah medis untuk penyakit hati berlemak juga diperbarui.

Saat ini digunakan istilah steatotic liver disease atau SLD sebagai istilah payung untuk berbagai kondisi yang ditandai penumpukan lemak di hati.

Salah satu kelompoknya adalah metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease atau MASLD.

MASLD digunakan ketika perlemakan hati terjadi bersama satu atau lebih faktor kardiometabolik, misalnya obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, trigliserida tinggi, atau gangguan kolesterol.

Istilah MASLD menggantikan sebagian besar kondisi yang sebelumnya dikenal sebagai NAFLD atau non-alcoholic fatty liver disease.

Jika penumpukan lemak sudah disertai peradangan dan kerusakan sel hati, kondisi tersebut disebut MASH atau metabolic dysfunction-associated steatohepatitis.

Pergantian nama tersebut bukan sekadar soal istilah.

Kata “metabolic dysfunction” menekankan bahwa perlemakan hati sering berkaitan erat dengan kondisi metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Apakah Semua Perlemakan Hati Akan Menjadi Kanker?

Tidak.

Ini penting agar seseorang yang baru mendapat hasil USG “fatty liver” tidak langsung menganggap dirinya akan terkena kanker hati.

Banyak orang dengan perlemakan hati tidak pernah mengalami kerusakan hati berat.

Masalah menjadi lebih serius jika penumpukan lemak berkembang menjadi peradangan dan kemudian membentuk fibrosis, yaitu jaringan parut pada hati.

Jika jaringan parut semakin luas dan menggantikan banyak jaringan hati yang sehat, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi sirosis.

Sirosis adalah kondisi ketika jaringan hati yang sehat banyak digantikan oleh jaringan parut sehingga struktur hati berubah dan fungsinya dapat semakin terganggu.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa perjalanan penyakit hati berlemak pada sebagian orang dapat berkembang dari peradangan, fibrosis, kemudian sirosis. Sirosis selanjutnya meningkatkan risiko gagal hati dan kanker hati.

Karena itu, ketika seseorang diketahui memiliki perlemakan hati, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya:
“Apakah ada lemak di hati?”

Tetapi juga:
“Apakah sudah terjadi fibrosis dan seberapa berat kondisi hatinya?”

Bagaimana Diabetes Berhubungan dengan Kanker Hati?

Diabetes tipe 2 bukan hanya persoalan kadar gula darah.

Pada diabetes tipe 2 terjadi gangguan kerja insulin yang sering berjalan bersama obesitas, penumpukan lemak di sekitar organ dalam, gangguan kadar lemak darah, dan perlemakan hati.

Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Karsinoma Sel Hati Kementerian Kesehatan mencantumkan diabetes sebagai salah satu faktor risiko kanker hati.

Dua telaah sistematis yang menjadi dasar pedoman tersebut menemukan bahwa penderita diabetes mempunyai risiko karsinoma sel hati sekitar 2,2–2,5 kali lebih tinggi dibandingkan orang tanpa diabetes.

Namun, angka tersebut tidak berarti diabetes secara sederhana “menyebabkan” kanker hati.

Diabetes sering berjalan bersama obesitas dan perlemakan hati, sehingga kontribusi masing-masing faktor tidak selalu mudah dipisahkan.

Jadi, memiliki diabetes bukan berarti seseorang pasti akan mengalami kanker hati.

Diabetes lebih tepat dipandang sebagai salah satu tanda bahwa kondisi metabolik dan kesehatan hati perlu mendapatkan perhatian lebih serius.

Bagaimana dengan Obesitas?

Obesitas juga bukan sekadar persoalan penampilan.

Kementerian Kesehatan pada Juli 2026 menegaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis dan berkaitan erat dengan diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, serta berbagai gangguan metabolik lainnya.

Lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam atau lemak visceral juga aktif secara metabolik.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa lemak visceral dapat melepaskan asam lemak ke aliran darah menuju hati dan berkaitan erat dengan diabetes tipe 2, hipertensi, serta perlemakan hati.

Hubungannya dengan kanker hati juga tercantum dalam Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Karsinoma Sel Hati Indonesia.

Meta-analisis yang dikutip pedoman tersebut menemukan bahwa orang dengan obesitas mempunyai risiko karsinoma sel hati sekitar 1,89 kali dibandingkan orang dengan berat badan normal.

Salah satu jalurnya dapat berlangsung melalui perlemakan hati, kemudian peradangan, fibrosis, sirosis, dan akhirnya kanker hati.

Sekali lagi, yang dibicarakan adalah peningkatan risiko, bukan kepastian terkena kanker.

Mengapa Kombinasi Diabetes, Obesitas, dan Perlemakan Hati Perlu Diperhatikan?

Ketiga kondisi tersebut sering tidak berdiri sendiri.

Seseorang dengan obesitas, terutama penumpukan lemak di perut, lebih mudah mengalami resistensi insulin.

Resistensi insulin dapat meningkatkan kemungkinan diabetes tipe 2 dan gangguan metabolisme lemak.

Pada saat yang sama, lemak dapat semakin menumpuk di hati.

Akibatnya, beberapa faktor risiko dapat muncul bersama dan saling berkaitan.

Inilah salah satu alasan istilah MASLD menempatkan gangguan metabolik di pusat definisinya.

Pedoman internasional mengenai MASLD juga menganjurkan penilaian risiko fibrosis pada orang dengan faktor kardiometabolik, terutama diabetes tipe 2 atau obesitas yang disertai faktor metabolik lainnya.

Fibrosis lanjut menjadi salah satu hal penting karena berkaitan erat dengan risiko komplikasi penyakit hati.

Perlemakan Hati Sering Tidak Memberikan Gejala

Inilah salah satu tantangannya.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa perlemakan hati sering tidak menimbulkan gejala yang jelas.

Seseorang dapat merasa sehat tanpa nyeri di perut kanan atas, mata kuning, atau keluhan tertentu.

Karena itu, perlemakan hati tidak jarang ditemukan secara tidak sengaja ketika seseorang menjalani USG, pemeriksaan darah, atau pemeriksaan kesehatan untuk alasan lain.

Pada Juni 2026, Kementerian Kesehatan kembali menekankan bahwa penyakit hati kronis dapat berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas.

Kemenkes memperkirakan sekitar 70 juta penduduk Indonesia mengalami penyakit hati kronis dari berbagai penyebab, termasuk perlemakan hati, hepatitis, dan kondisi hati lainnya.

Jadi, merasa sehat belum tentu menggambarkan kondisi hati sepenuhnya.

Kalau USG Menunjukkan Fatty Liver, Apakah Berarti Hati Sudah Rusak Berat?

Belum tentu.

Hasil USG yang menunjukkan fatty liver atau perlemakan hati berarti terdapat penumpukan lemak yang terlihat pada pemeriksaan.

Tetapi keberadaan lemak tidak otomatis berarti seseorang sudah mengalami fibrosis berat atau sirosis.

Penilaian kondisi hati dapat melibatkan pemeriksaan enzim hati seperti ALT dan AST, kondisi metabolik, pencitraan, serta pemeriksaan untuk menilai kemungkinan fibrosis sesuai kebutuhan.

Artinya, setelah mendapat hasil fatty liver, jangan langsung bertanya:
“Apakah saya akan terkena kanker?”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
“Apakah saya mempunyai faktor metabolik lain dan apakah sudah ada tanda fibrosis?”

Dokter dapat menentukan pemeriksaan yang diperlukan berdasarkan kondisi masing-masing.

Siapa yang Sebaiknya Membicarakan Kondisi Hatinya dengan Dokter?

Tidak semua orang membutuhkan pemeriksaan hati yang sama.

Namun, ada baiknya membicarakan kondisi hati dengan tenaga kesehatan jika Anda:
  • memiliki diabetes tipe 2;
  • mengalami obesitas, terutama di sekitar perut;
  • memiliki tekanan darah tinggi;
  • mempunyai trigliserida tinggi atau gangguan kolesterol;
  • sebelumnya pernah diberitahu memiliki fatty liver atau perlemakan hati; atau
  • mempunyai beberapa faktor metabolik sekaligus.

Tujuannya bukan berarti semua orang dengan kondisi tersebut harus menjalani pemeriksaan yang rumit.

Dokter dapat menilai apakah cukup dengan memperbaiki faktor metabolik atau diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat kemungkinan fibrosis.

Pendekatan ini juga sejalan dengan semakin kuatnya upaya deteksi penyakit hati di Indonesia. Pada 2026, Kementerian Kesehatan memperluas skrining dan deteksi dini penyakit hati melalui Program Cek 
Kesehatan Gratis.

Apa yang Bisa Dilakukan Mulai Sekarang?

Kabar baiknya, sebagian faktor metabolik termasuk faktor yang dapat diperbaiki.

Kementerian Kesehatan menempatkan pola makan sehat dan aktivitas fisik sebagai bagian penting dalam pengelolaan obesitas, diabetes, dan perlemakan hati.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
  • menjaga berat badan secara bertahap;
  • lebih rutin bergerak;
  • memperbanyak sayur dan buah;
  • mengurangi minuman berpemanis;
  • memperhatikan porsi makan;
  • mengendalikan gula darah;
  • menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol; dan
  • mengikuti pengobatan penyakit metabolik sesuai anjuran dokter.

Tidak perlu langsung melakukan diet sangat ketat atau mengejar penurunan berat badan dalam waktu singkat.

Penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia juga mendukung manfaat perubahan perilaku dan gaya hidup pada MASLD, terutama untuk membantu pengelolaan berat badan dan memperbaiki beberapa parameter kesehatan hati.

Perubahan yang dapat dipertahankan selama bertahun-tahun jauh lebih berarti dibandingkan diet ekstrem yang hanya bertahan beberapa minggu.

Kanker Hati Tidak Lagi Hanya Cerita tentang Hepatitis

Hepatitis B dan C tetap merupakan faktor risiko kanker hati yang sangat penting, terutama di Indonesia.

Namun, gambaran penyakit hati sedang berubah.

Perlemakan hati, obesitas, dan diabetes tipe 2 kini menjadi bagian yang semakin penting dari beban penyakit hati.

Pada Mei 2026, World Health Assembly secara resmi mengakui penyakit hati berlemak sebagai tantangan besar penyakit tidak menular yang membutuhkan respons kesehatan masyarakat lebih kuat.

Pesannya bukan bahwa setiap orang dengan fatty liver, obesitas, atau diabetes akan mengalami kanker hati.

Pesannya adalah:
kesehatan metabolik juga merupakan bagian dari kesehatan hati.

Jika Anda sudah mengetahui memiliki diabetes, obesitas, atau perlemakan hati, jangan hanya memperhatikan angka gula darah atau timbangan.

Bicarakan pula kondisi hati dengan tenaga kesehatan dan cari tahu apakah terdapat faktor yang 

kerusakan hati juga dapat bermula dari gangguan metabolik yang berkembang perlahan selama bertahun-tahun.


Daftar Pustaka
  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Karsinoma Sel Hati pada Dewasa. KMK HK.01.07/MENKES/1355/2022.
  2. Soetedjo, N. N. M. (2022). Perlemakan Hati: Selayang Pandang. RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 2 Juni). Penyakit Hati Mengintai, Menkes Ajak Masyarakat Rutin Deteksi Dini melalui CKG.
  4. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 3 Juni). Kemenkes Integrasikan Skrining dan Deteksi Dini Penyakit Hati melalui Program CKG.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 4 Juli). Wamenkes: Obesitas Penyakit Kronis, Pintu Utama Diabetes dan Komplikasi Mematikan.
  6. Promosi Kesehatan RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. (2026, 6 Agustus). Bahaya Lemak Perut dan Cara Mengatasinya. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa. KMK HK.01.07/MENKES/302/2026.
  8. Haya, M. A. N., Prawitasari, D., Azizah, S. N., & Kusumadewi, D. (2026). Behavioral Intervention for Lifestyle Modification in Adults with Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease. eJournal Kedokteran Indonesia, 14(2).
  9. World Health Organization. (2026, 21 Mei). Seventy-ninth World Health Assembly: Assembly Recognizes Steatotic Liver Disease as a Major and Growing NCD Challenge.
  10. European Association for the Study of the Liver, European Association for the Study of Diabetes, & European Association for the Study of Obesity. (2024). Clinical Practice Guidelines on the Management of Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD). Journal of Hepatology, 81(3), 492–542

Komentar (0)

Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.

Masuk / Daftar