YKKI
10 Tahun YKKI

YKKI.ORG

Melayani, menguatkan, dan berjalan bersama pasien kanker.

Memuat...
Skip to content
Home Program Donasi Tentang
kesehatan

Hepatitis B dan C Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Hati, Siapa yang Perlu Lebih Waspada?

Y
YKKI
15 dilihat
Hepatitis B dan C Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Hati, Siapa yang Perlu Lebih Waspada?

infeksi yang menjadi kronis dapat menyebabkan jaringan hati mengalami peradangan berulang, membentuk jaringan parut atau fibrosis, berkembang menjadi sirosis, dan akhirnya meningkatkan risiko kanker hati

Hepatitis tidak selalu membuat mata menjadi kuning.

Justru salah satu masalah terbesar hepatitis B dan C adalah seseorang dapat merasa sehat selama bertahun-tahun sementara infeksi dan kerusakan hati terus berlangsung.

Pada sebagian orang, infeksi yang menjadi kronis dapat menyebabkan jaringan hati mengalami peradangan berulang, membentuk jaringan parut atau fibrosis, berkembang menjadi sirosis, dan akhirnya meningkatkan risiko kanker hati, terutama karsinoma hepatoseluler.

Karena prosesnya dapat berlangsung tanpa keluhan yang jelas, seseorang mungkin baru mengetahui dirinya memiliki penyakit hati ketika kerusakan sudah cukup berat.

Kementerian Kesehatan RI menyebut hepatitis B dan C kronis sebagai penyebab penting kanker hati.

Pada 2025, Kemenkes memperkirakan sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia terinfeksi hepatitis B dan sekitar 2,5 juta terinfeksi hepatitis C.

Itulah mengapa pencegahan kanker hati tidak selalu dimulai dengan mencari tumor.

Kadang langkah pertama justru adalah mengetahui apakah kita memiliki infeksi hepatitis yang dapat merusak hati secara perlahan.

Bagaimana Hepatitis Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Hati?


Hati mempunyai kemampuan memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan.

Namun, jika peradangan terjadi terus-menerus selama bertahun-tahun, proses penyembuhan berulang dapat meninggalkan jaringan parut.

Tahap awal pembentukan jaringan parut disebut fibrosis.

Jika fibrosis semakin luas dan berat, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi sirosis. Sirosis adalah kondisi ketika sebagian besar jaringan hati yang sehat telah digantikan oleh jaringan parut sehingga struktur hati berubah dan fungsinya dapat semakin terganggu.

Sirosis meningkatkan risiko berbagai komplikasi, termasuk gagal hati dan karsinoma hepatoseluler atau hepatocellular carcinoma (HCC), yaitu jenis kanker hati primer yang paling sering ditemukan.

Kementerian Kesehatan memasukkan sirosis dan kanker hati sebagai komplikasi hepatitis B kronis. 
Pedoman nasional tata laksana hepatitis B juga menempatkan pencegahan progresi menjadi sirosis dan karsinoma hepatoseluler sebagai salah satu tujuan penting terapi.

Pada hepatitis C, perjalanan penyakit juga dapat berlangsung lama. WHO memperkirakan sekitar 70% orang yang terinfeksi hepatitis C akan berkembang menjadi infeksi kronis. Di antara orang dengan hepatitis C kronis, sekitar 15–30% dapat mengalami sirosis dalam waktu sekitar 20 tahun.

Hepatitis B Mempunyai Hubungan Khusus dengan Kanker Hati


Sebagian besar penyakit hati kronis meningkatkan risiko kanker setelah kerusakan dan fibrosis menjadi berat.

Namun, hepatitis B perlu mendapat perhatian khusus.

Virus hepatitis B dapat berhubungan dengan kanker hati melalui peradangan kronis dan perubahan biologis pada sel hati. Karena itu, pada sebagian orang dengan hepatitis B kronis, kanker hati dapat berkembang meskipun sirosis belum terbentuk.

Risikonya tetap jauh lebih tinggi ketika penyakit hati sudah berkembang menjadi fibrosis berat atau sirosis.

Artinya, seseorang dengan hepatitis B kronis tidak sebaiknya menunggu sampai merasa sakit atau sampai dinyatakan mengalami sirosis sebelum mengikuti pemantauan yang dianjurkan dokter.

Tujuan pengobatan hepatitis B kronis bukan sekadar menurunkan jumlah virus. WHO menjelaskan bahwa terapi antivirus dapat memperlambat perkembangan sirosis, mengurangi kejadian kanker hati, dan meningkatkan kesintasan jangka panjang.

Hepatitis B dan C Menular dengan Cara yang Tidak Persis Sama


Hepatitis B dapat menular melalui darah dan cairan tubuh.

Salah satu jalur yang sangat penting di Indonesia adalah penularan dari ibu dengan hepatitis B kepada bayi pada saat kelahiran. Penularan juga dapat terjadi melalui hubungan seksual, penggunaan jarum bersama, atau alat tajam dan alat medis yang terkontaminasi darah.

Kementerian Kesehatan mencantumkan penularan dari ibu ke bayi, hubungan seksual, jarum yang terkontaminasi, serta alat seperti tato atau cukur yang tidak steril sebagai jalur yang perlu diperhatikan.

Hepatitis C berbeda.

Virus hepatitis C terutama merupakan virus yang ditularkan melalui darah. Risiko terutama berkaitan dengan penggunaan jarum bersama, peralatan medis yang tidak steril, transfusi darah yang tidak melalui skrining memadai, atau paparan darah lainnya. Penularan melalui hubungan seksual dan dari ibu kepada bayi dapat terjadi, tetapi lebih jarang dibandingkan paparan darah.

Mengetahui jalur penularannya penting agar pencegahan dilakukan secara tepat, bukan dengan menjauhi atau mengucilkan orang yang hidup dengan hepatitis.

“Saya Merasa Sehat.” Apakah Tetap Bisa Mengalami Hepatitis?


Bisa.

Inilah salah satu bagian paling penting.

Kementerian Kesehatan pada Juni 2026 menekankan bahwa banyak penyakit hati kronis berkembang perlahan tanpa gejala jelas. Sebagian penderita baru mengetahui penyakitnya ketika telah terjadi sirosis atau kanker hati.

WHO juga memperkirakan bahwa pada 2024 hanya sekitar 27% orang di dunia yang hidup dengan hepatitis B mengetahui status infeksinya.

Hepatitis C juga sering tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal dan dapat tetap tidak terdiagnosis sampai bertahun-tahun kemudian ketika kerusakan hati mulai menimbulkan masalah.

Jadi, menunggu sampai mata menjadi kuning bukan strategi yang baik untuk mengetahui apakah seseorang mempunyai hepatitis kronis.

Siapa yang Perlu Lebih Memperhatikan Status Hepatitis?


Kebutuhan pemeriksaan setiap orang tidak sama.


Perhatian khusus diperlukan pada orang yang mempunyai kemungkinan paparan, misalnya memiliki anggota keluarga atau pasangan dengan hepatitis B, pernah terpapar darah, menggunakan jarum secara bersama, bekerja sebagai tenaga kesehatan dengan risiko paparan darah, mempunyai riwayat prosedur menggunakan alat yang tidak steril, atau mempunyai tanda penyakit hati.

Kehamilan juga merupakan situasi penting karena mengetahui status hepatitis B memungkinkan tindakan dilakukan untuk mencegah penularan kepada bayi.

WHO merekomendasikan pemeriksaan hepatitis B pada ibu hamil dan kelompok dengan risiko tertentu, termasuk anggota keluarga atau pasangan orang yang terinfeksi, tenaga kesehatan, orang dengan kemungkinan paparan darah, dan orang dengan penyakit hati.

Di Indonesia, deteksi hepatitis juga semakin diperkuat melalui program kesehatan nasional.

Pemeriksaan Hepatitis Kini Masuk dalam Cek Kesehatan Gratis


Petunjuk Teknis Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan tahun 2026 sudah memasukkan penilaian kesehatan hati.

Untuk hepatitis B digunakan pemeriksaan HBsAg, sedangkan untuk hepatitis C dapat digunakan anti-HCV sesuai faktor risiko.

Dalam alur CKG, HBsAg yang reaktif memerlukan rujukan dan evaluasi lebih lanjut. Anti-HCV yang reaktif juga bukan akhir diagnosis, karena bila fasilitas memungkinkan dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan HCV RNA untuk mengetahui apakah terdapat infeksi hepatitis C aktif.

CKG 2026 juga memasukkan penilaian fibrosis menggunakan APRI score, yaitu perhitungan berbasis hasil pemeriksaan darah yang membantu menilai kemungkinan jaringan parut pada hati.

Kementerian Kesehatan pada Juni 2026 menegaskan bahwa skrining penyakit hati melalui CKG mencakup deteksi hepatitis B dengan HBsAg serta penilaian fibrosis menggunakan APRI. Dalam kegiatan skrining kesehatan hati, Kemenkes juga menyediakan pemeriksaan HBsAg, anti-HCV, APRI, dan FibroScan.

Kalau HBsAg Reaktif, Apakah Berarti Sudah Kanker?


Tidak.

HBsAg adalah penanda yang digunakan untuk mengetahui adanya infeksi hepatitis B.

Hasil HBsAg reaktif bukan diagnosis kanker hati.

Hasil tersebut juga belum menjelaskan seluruh kondisi penyakit. Dokter dapat membutuhkan informasi tambahan untuk menentukan apakah infeksi bersifat akut atau kronis, bagaimana aktivitas virus, apakah telah terjadi fibrosis, dan apakah terapi diperlukan.

Pemeriksaan lanjutan dapat mencakup pemeriksaan fungsi hati, HBV DNA, HBeAg, jumlah trombosit, USG, elastografi, atau pemeriksaan lain sesuai keadaan pasien. Pedoman nasional Indonesia mencantumkan pemeriksaan serologis dan HBV DNA sebagai bagian dari evaluasi hepatitis B.

Jadi, hasil positif seharusnya dibaca sebagai:
“Ada sesuatu yang perlu dievaluasi lebih lanjut,” bukan “saya sudah terkena kanker.”

Apakah Semua Orang dengan Hepatitis B Harus Minum Obat?


Tidak selalu.

Keputusan terapi hepatitis B kronis mempertimbangkan beberapa hal, antara lain aktivitas virus, kondisi hati, kadar enzim hati, derajat fibrosis atau sirosis, dan faktor klinis lainnya.

Namun, pada orang yang memang memenuhi kriteria pengobatan, terapi antivirus dapat menekan replikasi virus dan membantu memperlambat kerusakan hati.

Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hepatitis B Indonesia menempatkan pencegahan sirosis, penyakit hati lanjut, karsinoma hepatoseluler, dan kematian sebagai tujuan terapi hepatitis B kronis.

Karena itu, jangan memulai maupun menghentikan obat hepatitis B sendiri.

Hepatitis C Berbeda: Sekarang Bisa Disembuhkan


Ada perbedaan besar antara hepatitis B dan hepatitis C.

Saat ini belum tersedia vaksin hepatitis C.

Namun, pengobatannya mengalami kemajuan besar.

WHO menyebut obat direct-acting antivirals atau DAA dapat menyembuhkan lebih dari 95% orang dengan infeksi hepatitis C.

Indonesia juga sudah menggunakan DAA.

Kementerian Kesehatan pada Juli 2025 melaporkan bahwa layanan pengobatan hepatitis C menggunakan DAA yang mampu menyembuhkan lebih dari 95% pasien telah tersedia di 71 rumah sakit di 56 kabupaten/kota pada seluruh provinsi.

Pemeriksaan hepatitis C biasanya dimulai dengan anti-HCV. Bila hasilnya reaktif, pemeriksaan HCV RNA diperlukan untuk memastikan apakah virus masih aktif di dalam tubuh.

Jadi, hasil anti-HCV positif juga tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa seseorang sedang mengalami hepatitis C kronis aktif.

Untuk Hepatitis B, Pencegahan Sudah Bisa Dimulai Sejak Lahir


Berbeda dengan hepatitis C, hepatitis B mempunyai vaksin yang efektif.

WHO menganjurkan bayi menerima vaksin hepatitis B secepat mungkin setelah lahir, idealnya dalam 24 jam pertama, kemudian melanjutkan dosis berikutnya sesuai jadwal imunisasi.

Indonesia sudah menjalankan strategi tersebut.

Pada 2024, Kementerian Kesehatan mencatat 89,6% ibu hamil telah menjalani skrining hepatitis B, dan lebih dari 93% bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg reaktif menerima imunisasi HB0 dan HBIg dalam 24 jam pertama.

Pemerintah juga memperluas pemberian antivirus tenofovir pada ibu hamil dengan hepatitis B yang memenuhi kriteria untuk membantu mencegah penularan kepada bayi. Kebijakan ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/111/2025.

Pencegahan tersebut mempunyai dampak yang lebih panjang daripada sekadar mencegah penyakit hepatitis pada masa kanak-kanak.

Rencana Kanker Nasional 2024–2034 secara khusus menegaskan bahwa karena hepatitis B kronis meningkatkan risiko sirosis dan kanker hati, vaksinasi hepatitis B sekaligus menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko kanker hati.

Indonesia Masih Mempunyai Beban Hepatitis yang Besar


WHO Indonesia dalam laporan 2024 memperkirakan hepatitis B menyebabkan sekitar 60.000 kematian setiap tahun di Indonesia, sedangkan hepatitis C menyebabkan lebih dari 6.000 kematian.

Sementara itu, data yang disampaikan Kementerian Kesehatan pada 2025 menunjukkan prevalensi hepatitis B Indonesia telah turun dari 7,1% pada 2013 menjadi 2,4% pada 2023.

Ini merupakan kemajuan, tetapi jutaan orang masih hidup dengan hepatitis B atau C.

Tantangan berikutnya adalah menemukan mereka sebelum penyakit hati menjadi berat.

Jangan Menunggu Hati “Memberi Tanda”


Hepatitis B dan C menunjukkan satu hal penting tentang pencegahan kanker:
pencegahan kanker hati dapat dimulai bertahun-tahun sebelum tumor terbentuk.

Dimulai dari vaksinasi hepatitis B.
Dari mencegah paparan darah yang tidak aman.
Dari pemeriksaan ibu hamil.
Dari mengetahui status HBsAg atau anti-HCV ketika memang diperlukan.
Dan dari menjalani pengobatan serta pemantauan apabila infeksi sudah ditemukan.

Hasil hepatitis positif bukan berarti seseorang sudah mengalami kanker hati.

Justru mengetahui infeksi lebih awal memberi kesempatan untuk mengendalikan virus, menilai kerusakan hati, mencegah penularan, dan menurunkan kemungkinan penyakit berkembang lebih jauh.

Hepatitis dapat berlangsung diam-diam selama bertahun-tahun.

Tetapi kita tidak harus menunggu sampai muncul sirosis atau kanker hati untuk mulai bertindak.

Daftar Pustaka
  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 2 Juni). Penyakit Hati Mengintai, Menkes Ajak Masyarakat Rutin Deteksi Dini melalui CKG.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 23 Juli). Putuskan Penularan, Wujudkan Indonesia Bebas Hepatitis 2030.
  3. Promosi Kesehatan, Tim Kerja Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2024, 30 September). Mengenal Penyakit Hepatitis B. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hepatitis C. Ayo Sehat.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/84/2026 tentang Petunjuk Teknis Cek Kesehatan Gratis.
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/111/2025 tentang Penetapan Pemberian Antivirus pada Ibu Hamil untuk Pencegahan Penularan Virus Hepatitis B dari Ibu ke Anak.
  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hepatitis B. KMK HK.01.07/MENKES/322/2019.
  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hepatitis C. KMK HK.01.07/MENKES/681/2019.
  9. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Rencana Kanker Nasional 2024–2034: Strategi Indonesia dalam Upaya Melawan Kanker.
  10. World Health Organization Indonesia. (2024, 5 Agustus). WHO Menerbitkan Laporan Global Terbaru dan Pedoman Terpadu Penanganan Hepatitis Virus.
  11. World Health Organization. (2026, 28 Juli). Hepatitis B.
  12. World Health Organization. (2026, 28 Juli). Hepatitis C.

Komentar (0)

Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.

Masuk / Daftar