YKKI
10 Tahun YKKI

YKKI.ORG

Melayani, menguatkan, dan berjalan bersama pasien kanker.

Memuat...
Skip to content
Home Program Donasi Tentang
kesehatan

Kanker Hati dan Beban yang Mengikutinya: Dari Keluarga hingga Sistem Kesehatan

Y
YKKI
13 dilihat
Kanker Hati dan Beban yang Mengikutinya: Dari Keluarga hingga Sistem Kesehatan

pengeluaran dapat bertambah karena transportasi, makan selama perjalanan, tempat tinggal sementara, serta kebutuhan lain di luar tindakan medis.

Diagnosis kanker hati tidak berhenti di ruang periksa.

Jadwal kerja pasien dapat berubah. Anggota keluarga mungkin harus menemani kontrol, mengatur perjalanan ke rumah sakit, membantu kebutuhan sehari-hari, atau mengambil alih pekerjaan yang sebelumnya dilakukan pasien.

Di saat yang sama, pengeluaran dapat bertambah karena transportasi, makan selama perjalanan, tempat tinggal sementara, serta kebutuhan lain di luar tindakan medis.

Karena itu, kanker hati bukan hanya persoalan tumor yang harus diobati. Dampaknya dapat menjalar ke kehidupan keluarga, produktivitas, rumah sakit, dan pembiayaan sistem kesehatan.

Indonesia sendiri menempatkan kanker hati sebagai salah satu dari enam kanker prioritas nasional, bersama kanker payudara, serviks, paru, kolorektal, dan kanker anak. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa kanker tidak hanya menimbulkan beban penyakit, tetapi juga beban pembiayaan yang terus meningkat.

Mengapa Pengobatan Kanker Hati Bisa Lebih Kompleks?

Kanker hati mempunyai tantangan khusus.

Dokter tidak hanya menilai seberapa besar tumornya dan ke mana tumor menyebar, tetapi juga harus mengetahui seberapa baik hati masih mampu bekerja.

Hal ini penting karena banyak pasien karsinoma sel hati atau hepatocellular carcinoma (HCC) juga mempunyai penyakit hati kronis atau sirosis.

Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa pilihan terapi kanker hati mempertimbangkan tiga hal besar:
  • fungsi hati;
  • kondisi umum atau performance status pasien; dan
  • beban tumor, termasuk ukuran, jumlah, invasi pembuluh darah, dan penyebaran ke organ lain.

Artinya, dua pasien dengan ukuran tumor yang tampak serupa belum tentu mendapat terapi yang sama.

Kondisi hati yang mendasarinya ikut menentukan apa yang aman dan memungkinkan dilakukan.

Pilihan Terapinya Juga Sangat Beragam

Pada kondisi tertentu, terdapat terapi yang mempunyai tujuan kuratif atau berpotensi menyembuhkan.

PNPK Kanker Hati Indonesia mencantumkan:
reseksi atau operasi, transplantasi hati, dan ablasi sebagai terapi yang berpotensi kuratif.

Untuk penyakit pada kondisi lain, pilihan dapat mencakup transarterial chemoembolization atau TACE, radioterapi tertentu, terapi sistemik, terapi target, atau imunoterapi, tergantung stadium dan kondisi pasien.

Itulah sebabnya penanganan kanker hati sering melibatkan tim multidisiplin.

Dokter penyakit dalam konsultan hepatologi, bedah, radiologi intervensi, onkologi, radioterapi, transplantasi, patologi, serta berbagai tenaga kesehatan lain dapat mempunyai peran pada pasien yang sama.

Semakin kompleks kondisi penyakit, semakin besar pula kebutuhan sumber daya pelayanan kesehatan.

Stadium Saat Ditemukan Sangat Berpengaruh

Tidak semua kanker hati membawa perjalanan pengobatan yang sama.

Ketika tumor ditemukan pada tahap tertentu dan fungsi hati masih cukup baik, sebagian pasien masih dapat memperoleh terapi dengan tujuan kuratif seperti operasi, ablasi, atau transplantasi.

Sebaliknya, jika kanker sudah melibatkan pembuluh darah, menyebar, atau kondisi hati telah sangat terganggu, pilihan pengobatannya dapat menjadi lebih terbatas atau membutuhkan kombinasi terapi yang lebih kompleks.

Perbedaan tersebut tidak hanya berpengaruh pada hasil klinis.

Ada pula konsekuensi pembiayaan.

Berapa Besar Proyeksi Biaya Kanker Hati di Indonesia?

Rencana Kanker Nasional 2024–2034 membuat proyeksi khusus mengenai pembiayaan kanker hati pada tahun 2035.

Dokumen tersebut memperkirakan sekitar 33.065 kasus kanker hati pada 2035.

Dalam skenario perhitungannya, sekitar 30% diasumsikan berada pada stadium dini dan 70% stadium lanjut.

Proyeksi pembiayaannya adalah:
  • stadium dini: sekitar Rp923 miliar–Rp1,33 triliun;
  • stadium lanjut: sekitar Rp3,07–Rp3,41 triliun;
  • total: sekitar Rp3,996–Rp4,744 triliun.

Angka tersebut bukan biaya yang akan dibayar oleh satu pasien.

Ini adalah estimasi pembiayaan secara nasional berdasarkan proyeksi jumlah kasus dan biaya terapi.

Namun, ada pesan penting di balik angka tersebut: dalam proyeksi pemerintah, bagian terbesar pembiayaan kanker hati berasal dari penanganan kasus stadium lanjut.

Karena itu, menggeser diagnosis ke tahap yang lebih dini tidak hanya penting bagi peluang terapi pasien, tetapi juga relevan bagi keberlanjutan sistem kesehatan.

Beban Kanker Tidak Berhenti pada Tagihan Rumah Sakit

Ketika membicarakan biaya kanker, mudah membayangkan obat, operasi, rawat inap, atau pemeriksaan.

Namun, dari sudut pandang keluarga, ada biaya lain yang tidak selalu terlihat pada tagihan rumah sakit.

Pasien mungkin membutuhkan ongkos perjalanan berulang.

Jika tinggal jauh dari rumah sakit rujukan, keluarga mungkin memerlukan tempat menginap.

Ada tambahan biaya makan selama menjalani pengobatan.

Pasien dapat kehilangan hari kerja.

Pendamping juga bisa kehilangan jam kerja atau harus mengambil cuti.

Sebuah penelitian terhadap pengalaman pasien kanker di Indonesia menemukan bahwa tekanan finansial tidak hanya berasal dari biaya kesehatan, tetapi juga dari pengeluaran nonmedis dan berkurangnya pendapatan akibat terganggunya pekerjaan.

Jadi, biaya kanker mempunyai beberapa lapisan.

Ada biaya pelayanan kesehatan, biaya untuk mencapai pelayanan tersebut, dan kehilangan pendapatan karena pasien maupun keluarganya tidak dapat bekerja seperti sebelumnya.

Inilah yang Disebut Financial Toxicity

Dalam pelayanan kanker dikenal istilah financial toxicity atau toksisitas finansial.

Istilah ini menggambarkan tekanan ekonomi yang muncul akibat penyakit dan proses pengobatannya.

Kementerian Kesehatan mengutip penelitian di rumah sakit pusat rujukan nasional yang menemukan bahwa 79% responden mengalami toksisitas finansial dalam memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga, meskipun mereka menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional.

Namun, angka tersebut perlu dipahami sesuai konteks.

Penelitian aslinya melibatkan 105 pasien kanker yang telah menjalani radioterapi, dan 83 di antaranya atau 79% mengalami toksisitas finansial dengan derajat yang berbeda. Penelitian tersebut bukan khusus pasien kanker hati dan tidak dapat langsung digeneralisasi kepada seluruh pasien kanker di Indonesia.

Meski demikian, temuan tersebut menunjukkan satu hal penting:
perlindungan biaya medis tidak otomatis menghapus seluruh dampak ekonomi akibat kanker.
JKN Sangat Penting, tetapi Keluarga Tetap Bisa Menghadapi Biaya Lain

Jaminan Kesehatan Nasional mempunyai peran besar dalam melindungi pasien dari biaya pelayanan kesehatan.

Namun, suatu keluarga tetap dapat menghadapi kebutuhan yang berada di luar biaya tindakan medis langsung.

Penelitian mengenai pengalaman toksisitas finansial pasien kanker di Indonesia menemukan beberapa sumber tekanan, antara lain biaya nonkesehatan yang berkaitan dengan pengobatan serta dampak negatif pada pendapatan karena pekerjaan terganggu. 

Karena itu, ketika keluarga mengatakan:
“Pengobatannya ditanggung, tetapi biaya hidup selama berobat tetap berat,”
situasi tersebut sangat mungkin terjadi.

Hal inilah yang membuat dampak ekonomi kanker perlu dilihat dari perspektif rumah tangga, bukan hanya dari klaim rumah sakit.

Keluarga Juga Menjadi Bagian dari Sistem Perawatan

Pasien kanker jarang menjalani seluruh perjalanan penyakit sendirian.

Ada pasangan, anak, saudara, atau anggota keluarga lain yang menjadi family caregiver atau pengasuh keluarga.

Mereka dapat membantu pasien makan, minum obat, berpindah tempat, mengurus administrasi, pergi kontrol, atau sekadar memastikan pasien tidak menjalani masa sulit seorang diri.

Namun, aktivitas merawat juga mempunyai beban tersendiri.

Penelitian Indonesia terhadap 178 pasangan pasien kanker stadium lanjut dan pengasuh keluarganya menemukan bahwa beban pengasuh berada pada tingkat sedang, dengan gangguan terhadap jadwal sehari-hari sebagai domain beban tertinggi. Durasi merawat dan dukungan keluarga juga menjadi faktor yang berkaitan dengan besarnya beban.

Artinya, dampak kanker dapat menyentuh kehidupan orang yang bahkan tidak mengalami penyakit tersebut secara langsung.

Transplantasi Hati Menunjukkan Betapa Kompleksnya Sistem yang Dibutuhkan

Transplantasi hati merupakan contoh paling jelas bahwa pelayanan penyakit hati membutuhkan lebih dari satu dokter atau satu ruang operasi.

Pada pasien kanker hati tertentu yang memenuhi kriteria, transplantasi dapat menjadi salah satu pilihan terapi kuratif. PNPK Sirosis Hati Indonesia menjelaskan bahwa transplantasi dapat dipertimbangkan pada karsinoma sel hati stadium tertentu berdasarkan kriteria seperti jumlah, ukuran tumor, invasi pembuluh darah, dan penyebaran penyakit. 

Prosedur ini memerlukan seleksi pasien dan donor, operasi besar, tim multidisiplin, perawatan intensif, obat setelah transplantasi, serta pemantauan jangka panjang.

Indonesia sedang meningkatkan kemampuan tersebut.

Pada 9 April 2026, RSUP Fatmawati melakukan transplantasi hati ketiganya bekerja sama dengan Seoul National University Hospital sebagai bagian dari penguatan kapasitas nasional. Kasus tersebut dilakukan pada pasien sirosis hati akibat hepatitis B, bukan pasien kanker hati, tetapi tetap menunjukkan kompleksitas sumber daya yang diperlukan untuk membangun layanan transplantasi.

Kementerian Kesehatan berharap pengembangan kemampuan transplantasi di dalam negeri dapat mengurangi kebutuhan masyarakat mencari layanan ke luar negeri. 

Mengapa Pencegahan Memiliki Nilai yang Sangat Besar?

Kanker hati sering berkembang di atas penyakit hati yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Pada sebagian orang, perjalanan tersebut dapat bermula dari infeksi hepatitis B atau C. Pada orang lain, kerusakan hati dapat berkaitan dengan perlemakan hati, obesitas, diabetes, konsumsi alkohol, atau kondisi lain yang menyebabkan peradangan dan fibrosis pada hati.

Karena prosesnya biasanya panjang, sebenarnya terdapat beberapa kesempatan untuk mengurangi risiko sebelum kanker terbentuk atau menemukan penyakit ketika masih lebih dini.

Vaksinasi hepatitis B, misalnya, dapat mencegah salah satu infeksi yang berperan penting dalam terjadinya sirosis dan kanker hati.

Pada orang yang sudah mengalami hepatitis B atau C, pemeriksaan dan pengobatan yang tepat dapat membantu menekan aktivitas virus dan memperlambat kerusakan hati. Hepatitis C bahkan kini dapat disembuhkan pada sebagian besar pasien dengan pengobatan antivirus yang sesuai.

Pada orang dengan diabetes, obesitas, atau perlemakan hati, mengendalikan gula darah, berat badan, tekanan darah, dan faktor metabolik lainnya juga penting untuk membantu mencegah penyakit hati berkembang lebih jauh.

Sementara itu, pada orang yang sudah mempunyai risiko tinggi, misalnya karena sirosis atau kondisi hepatitis B tertentu, surveilans kanker hati secara berkala memberi kesempatan menemukan tumor ketika ukurannya masih lebih kecil dan pilihan terapinya masih lebih luas.

Karena itu, pencegahan kanker hati sebenarnya berlangsung dalam beberapa lapisan:
mencegah faktor penyebab, menghentikan atau memperlambat kerusakan hati, dan menemukan kanker sedini mungkin pada orang yang memang berisiko tinggi.

Rencana Kanker Nasional 2024–2034 juga menempatkan promosi dan pencegahan, skrining dan deteksi dini, peningkatan akses diagnosis dan terapi, pelayanan paliatif, registrasi, penelitian, serta penguatan sistem pelayanan sebagai bagian penting pengendalian kanker nasional.

Nilai pencegahan menjadi semakin besar ketika melihat bahwa penanganan kanker hati stadium lanjut membutuhkan sumber daya yang jauh lebih besar.

Dalam proyeksi Rencana Kanker Nasional untuk tahun 2035, sebagian terbesar kebutuhan pembiayaan kanker hati diperkirakan berasal dari penanganan penyakit stadium lanjut.

Artinya, mencegah penyakit hati berkembang menjadi kanker dan menemukan kanker pada tahap yang lebih dini tidak hanya berpotensi memberikan hasil kesehatan yang lebih baik bagi pasien.

Upaya tersebut juga dapat mengurangi perjalanan pengobatan yang lebih kompleks dan beban yang harus ditanggung keluarga serta sistem kesehatan.

Beban Sistem Kesehatan Juga Akan Terus Bertambah jika Kasus Bertambah

Kanker secara keseluruhan sudah memberikan tekanan besar terhadap pembiayaan kesehatan Indonesia.

Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa beban pembiayaan kanker meningkat dari peringkat kesembilan pada 1990 menjadi peringkat kedua pada 2019 dalam pembiayaan penyakit di Indonesia.

Data terbaru IARC juga menunjukkan kanker hati masih menjadi salah satu penyebab utama kematian kanker secara global.

Dalam GLOBOCAN 2024, kanker hati menyumbang sekitar 7,5% kematian akibat kanker di dunia, menempatkannya di antara penyebab kematian kanker terbesar.

Maka, semakin banyak penyakit hati kronis yang dapat dicegah atau dikendalikan sebelum berubah menjadi kanker, semakin besar pula potensi manfaatnya bagi pasien, keluarga, dan sistem kesehatan.

Kanker Hati Adalah Masalah Pasien, Keluarga, dan Masyarakat

Kanker hati memperlihatkan bagaimana satu diagnosis dapat menimbulkan dampak yang jauh melampaui organ yang mengalami penyakit.

Pasien harus menghadapi pemeriksaan, pengobatan, perubahan kondisi fisik, dan ketidakpastian mengenai penyakitnya.

Di sekeliling pasien, keluarga sering ikut menyesuaikan kehidupan mereka. Ada yang harus menemani kontrol, mengatur transportasi, membantu kebutuhan sehari-hari, mengambil cuti kerja, atau bahkan mengurangi aktivitas mencari nafkah untuk menjadi pendamping.

Pada saat yang sama, rumah sakit membutuhkan tenaga kesehatan dari berbagai bidang, fasilitas diagnostik, tindakan intervensi, obat-obatan, pelayanan rawat inap, hingga layanan transplantasi pada pasien tertentu.

Sistem kesehatan juga harus menyediakan pembiayaan dan memastikan pelayanan tersebut dapat dijangkau oleh masyarakat.

Karena itu, beban kanker hati tidak muncul hanya ketika seseorang menerima diagnosis kanker.

Beban tersebut sebenarnya dapat mulai terbentuk jauh sebelumnya ketika hepatitis tidak terdeteksi atau tidak tertangani, perlemakan hati dan gangguan metabolik berkembang menjadi fibrosis dan sirosis, atau orang yang sudah berisiko tinggi tidak mendapatkan pemantauan yang sesuai.

Inilah mengapa investasi pada vaksinasi hepatitis B, deteksi dan pengobatan hepatitis, pengendalian penyakit metabolik, penemuan fibrosis dan sirosis, serta surveilans kanker hati mempunyai nilai yang besar.

Setiap tahapan yang berhasil dicegah atau ditangani lebih awal dapat membantu mengurangi kemungkinan seseorang harus menghadapi penyakit yang lebih lanjut dan pengobatan yang semakin kompleks.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan hati bukan hanya tentang mencegah satu jenis kanker.
Ini juga tentang mempertahankan kualitas hidup pasien, menjaga ketahanan keluarga, dan mengurangi beban pelayanan kesehatan yang harus ditanggung bersama.

Semakin dini penyakit hati dapat dicegah, ditemukan, dan ditangani, semakin besar peluang untuk mengurangi dampaknya sebelum berkembang menjadi masalah yang jauh lebih berat.

Daftar Pustaka
  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Rencana Kanker Nasional 2024–2034: Strategi Indonesia dalam Upaya Melawan Kanker.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kerangka Kerja Pencegahan dan Pengendalian Kanker.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Karsinoma Sel Hati pada Dewasa. KMK HK.01.07/MENKES/1355/2022.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sirosis Hati pada Dewasa. KMK HK.01.07/MENKES/778/2025.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 10 April). Lakukan Transplantasi Hati Ketiga, RSUP Fatmawati Perkuat Kemandirian Layanan Dalam Negeri.
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 10 April). Kolaborasi Indonesia–Korea Perkuat Kapasitas Transplantasi Hati di RSUP Fatmawati.
  7. Sari, I. W. W., Warsini, S., & Effendy, C. (2018). Burden among family caregivers of advanced-cancer patients in Indonesia. Belitung Nursing Journal, 4(3), 295–303.
  8. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Analisis Tingkat Toksisitas Finansial pada Pasien Kanker yang Menjalani Terapi Radiasi di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Pusat Rujukan Nasional Indonesia.
  9. Wulandari, L. P. L., et al. (2024). Financial Toxicity Experiences of Patients With Cancer in Indonesia: An Interpretive Phenomenological Analysis. Value in Health Regional Issues, 41, 25–31.
  10. Sung, H., et al. (2026). Global cancer statistics 2024: GLOBOCAN estimates of incidence and mortality worldwide for 34 cancers in 186 countries. CA: A Cancer Journal for Clinicians.

Komentar (0)

Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.

Masuk / Daftar