Atau rasa sakit tiba-tiba muncul pada satu sisi setelah berolahraga, mengangkat barang berat, atau melakukan aktivitas tertentu.
Wajar jika muncul pertanyaan: “Apakah nyeri payudara berarti kanker?”
Nyeri payudara, yang dalam istilah medis disebut mastalgia, merupakan keluhan yang cukup umum. American Cancer Society menjelaskan bahwa sebagian besar nyeri
payudara bukan disebabkan oleh kanker, dan perubahan hormon merupakan salah satu penyebab yang paling sering.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga mencantumkan nyeri atau rasa tidak nyaman sebagai salah satu perubahan yang dapat terjadi pada payudara. Namun, kanker payudara mempunyai berbagai tanda lain dan tidak selalu menimbulkan rasa sakit.
Karena itu, daripada langsung membayangkan kemungkinan terburuk, ada satu hal yang lebih membantu:
Nyeri Menjelang Menstruasi Bisa Berkaitan dengan Perubahan Hormon
Salah satu pola yang cukup mudah dikenali adalah nyeri yang datang menjelang menstruasi.
Payudara dapat terasa lebih sensitif, penuh, membengkak, berat, atau nyeri. Keluhan sering dirasakan pada kedua payudara dan dapat membaik ketika menstruasi dimulai atau setelahnya.
Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan menjelaskan bahwa pada sebagian perempuan, menstruasi dapat disertai keluhan fisik berupa
payudara terasa sakit atau membengkak.
Gejala pramenstruasi atau PMS juga dapat meliputi nyeri payudara bersama keluhan lain seperti sakit kepala, perubahan nafsu makan, mual, atau perut kembung.
Nyeri yang mengikuti pola bulanan seperti ini disebut nyeri payudara siklik.
Jika nyeri hampir selalu muncul pada periode yang sama menjelang menstruasi dan kemudian berkurang, mencatat waktunya selama beberapa bulan dapat membantu mengenali pola tersebut.
Tidak Semua Nyeri Mengikuti Siklus Menstruasi
Ada pula nyeri payudara yang tidak mempunyai hubungan jelas dengan menstruasi.
Kondisi ini sering disebut nyeri non-siklik.
Rasanya dapat berupa nyeri menusuk, terbakar, ngilu, atau tekanan pada area tertentu.
Keluhan dapat muncul pada satu payudara dan tidak selalu mengikuti pola bulanan.
Penyebabnya cukup beragam.
Kehamilan, misalnya, dapat membuat payudara terasa nyeri, lebih besar, dan lebih berat.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa perubahan tersebut dapat mulai terjadi sejak trimester pertama sebagai bagian dari perubahan tubuh selama kehamilan.
Perubahan hormon menjelang menopause juga dapat menimbulkan keluhan.
Dalam artikel mengenai perubahan hormonal pada masa menopause, Direktorat Jenderal
Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan menyebut bahwa fluktuasi estrogen selama masa transisi menopause dapat disertai mastalgia atau nyeri payudara.
Jadi, usia dan fase kehidupan juga penting ketika mencari kemungkinan penyebab nyeri.
Obat dan Kontrasepsi Hormonal Juga Dapat Berpengaruh
Nyeri payudara terkadang mulai terasa setelah seseorang menggunakan obat atau terapi hormonal tertentu.
Salah satu contohnya adalah kontrasepsi hormonal.
Dalam edukasi mengenai keluarga berencana, Kementerian Kesehatan mencantumkan nyeri payudara sebagai salah satu keluhan yang dapat terjadi pada penggunaan pil kontrasepsi.
Karena itu, jika nyeri mulai muncul setelah menggunakan kontrasepsi atau obat tertentu, catat kapan keluhan mulai terasa.
Namun, jangan menghentikan obat atau kontrasepsi sendiri hanya karena menduga itulah penyebabnya.
Bicarakan dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan yang menangani Anda agar dapat dinilai apakah keluhan memang berhubungan dengan obat tersebut dan apakah diperlukan perubahan.
Kadang yang Terasa Sakit Bukan Berasal dari Payudara
Ini salah satu penyebab yang mudah mengecoh.
Seseorang mungkin menunjuk area payudara sebagai lokasi nyeri, padahal rasa sakit sebenarnya berasal dari otot dada, tulang rusuk, bahu, leher, atau jaringan di sekitar payudara.
Misalnya, sehari sebelumnya Anda mengangkat galon, membawa barang berat, melakukan latihan otot dada, atau melakukan pekerjaan dengan gerakan tangan berulang.
Ketegangan atau cedera pada otot dada dapat terasa seperti nyeri yang berasal dari payudara.
Perhatikan apakah sakit bertambah ketika lengan digerakkan, tubuh diputar, atau area dada tertentu ditekan.
Informasi sederhana seperti ini dapat membantu tenaga kesehatan menemukan sumber keluhan.
Bra yang Kurang Sesuai Juga Bisa Menimbulkan Ketidaknyamanan
Tidak semua penyebab nyeri bersifat penyakit.
Bra yang terlalu ketat dapat memberikan tekanan pada payudara, sementara penyangga yang kurang sesuai dapat membuat payudara bergerak lebih banyak ketika melakukan aktivitas fisik.
Pada sebagian orang, hal tersebut dapat menimbulkan rasa berat atau tidak nyaman.
Jika keluhan terutama muncul saat atau setelah berolahraga, perhatikan apakah bra yang digunakan sudah mempunyai ukuran dan penyangga yang sesuai.
Namun, jangan menggunakan persoalan bra sebagai penjelasan untuk setiap nyeri yang terus berulang. Jika keluhan menetap atau berubah pola, tetap lakukan pemeriksaan.
Saat Menyusui, Nyeri Bisa Berkaitan dengan Sumbatan ASI atau Peradangan
Pada ibu menyusui, penyebab nyeri payudara dapat berbeda.
Ayo Sehat Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa saluran ASI yang tersumbat dapat menyebabkan bagian payudara terasa keras, bengkak, panas, kemerahan, dan nyeri ketika ditekan.
Masalah menyusui juga dapat berkembang menjadi peradangan pada jaringan payudara atau mastitis.
Karena itu, nyeri payudara pada ibu menyusui perlu diperhatikan terutama jika payudara menjadi merah, panas, membengkak, terasa sangat sakit, atau disertai demam maupun tubuh terasa tidak sehat.
Pada kondisi tersebut, konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk menentukan penyebab dan penanganannya.
Nyeri Payudara Bisa Terjadi pada Kanker, tetapi Bukan Gejala yang Paling Khas
Bagian ini penting agar kita tidak jatuh pada dua kesimpulan ekstrem.
Nyeri payudara bukan berarti pasti kanker, tetapi juga tidak tepat mengatakan bahwa
kanker payudara tidak pernah menimbulkan rasa sakit.
Kementerian Kesehatan RI mencantumkan nyeri atau rasa tidak nyaman pada payudara sebagai salah satu keluhan yang dapat terjadi pada kanker payudara. Namun, tidak
semua kanker payudara menimbulkan nyeri.
Tanda yang juga perlu diperhatikan meliputi munculnya benjolan atau penebalan baru, perubahan bentuk atau ukuran payudara, puting yang tertarik ke dalam, cairan abnormal dari puting, perubahan kulit seperti kemerahan atau tampak menyerupai kulit jeruk, serta pembengkakan di ketiak.
American Cancer Society juga menegaskan bahwa nyeri payudara sebagai satu-satunya keluhan biasanya bukan tanda kanker payudara. Jika kanker menyebabkan nyeri, keluhan dapat bersifat menetap dan dapat muncul bersama perubahan lain pada payudara.
Jadi, jangan menggunakan rasa sakit sebagai satu-satunya patokan untuk menilai kanker.
Membuat Catatan Nyeri Bisa Membantu
Jika nyeri sering muncul tetapi polanya belum jelas, coba buat catatan sederhana.
Catat kapan nyeri dimulai, apakah terjadi pada satu atau kedua payudara, apakah berhubungan dengan menstruasi, apakah baru menggunakan kontrasepsi atau obat tertentu, apakah sebelumnya melakukan aktivitas fisik berat, dan kapan keluhan menghilang.
Tidak perlu membuat catatan yang rumit.
Tujuannya bukan mendiagnosis penyakit sendiri.
Catatan tersebut dapat membantu menjawab pertanyaan penting ketika berkonsultasi:
Apa yang Bisa Dilakukan Sementara?
Jika nyeri ringan dan tampaknya berkaitan dengan menstruasi atau aktivitas tertentu,
beberapa langkah sederhana dapat dilakukan sambil memperhatikan perkembangannya.
Gunakan bra yang nyaman dan memberikan penyangga yang sesuai. Kurangi sementara aktivitas yang jelas memperburuk rasa sakit.
Jika membutuhkan obat pereda nyeri, gunakan sesuai petunjuk penggunaan dan pertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing. Bila mempunyai penyakit tertentu, sedang hamil, menyusui, atau rutin menggunakan obat lain, konsultasikan dengan dokter atau apoteker sebelum menggunakan obat.
Hindari pula terburu-buru membeli berbagai suplemen yang dipromosikan khusus untuk nyeri payudara tanpa mengetahui manfaat dan keamanannya.
Yang terpenting adalah menemukan penyebab, bukan sekadar membuat nyeri menghilang sementara.
Kapan Nyeri Payudara Perlu Diperiksakan?
Nyeri layak diperiksakan apabila terus menetap, semakin berat, sering berulang di luar pola menstruasi, hanya terpusat pada satu tempat, atau mulai mengganggu aktivitas dan tidur.
Pemeriksaan juga penting jika nyeri disertai perubahan lain seperti benjolan baru, pembengkakan ketiak, perubahan bentuk payudara, kulit tertarik atau menyerupai kulit jeruk, puting yang baru tertarik ke dalam, atau cairan abnormal dari puting.
Jika payudara menjadi panas, merah, bengkak, dan disertai demam, khususnya saat menyusui, jangan menunda berkonsultasi.
Kementerian Kesehatan RI pada Agustus 2026 telah menerbitkan Pedoman Nasional
Pelayanan Klinis Tata Laksana Kanker Payudara sebagai acuan nasional bagi tenaga medis dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam melakukan diagnosis serta tata laksana kanker payudara.
Karena itu, bila terdapat keluhan yang menetap atau perubahan mencurigakan, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan merupakan langkah yang lebih tepat daripada mencoba mendiagnosis diri sendiri.
Kenali Polanya, Bukan Hanya Rasa Sakitnya
Nyeri payudara mempunyai banyak kemungkinan penyebab.
Perubahan hormon menjelang menstruasi, kehamilan, masa transisi menopause, penggunaan kontrasepsi hormonal, aktivitas otot dada, penyangga payudara yang kurang sesuai, hingga masalah saat menyusui dapat menimbulkan keluhan.
Karena itu, pertanyaan pertama tidak harus selalu:
Cobalah mulai dengan pertanyaan yang lebih membantu:
Sebagian besar nyeri payudara bukan kanker.
Tetapi nyeri yang menetap, semakin berat, berubah dari pola biasanya, atau disertai perubahan lain pada payudara tetap perlu diperiksakan.
Mengenali pola bukan berarti mendiagnosis diri sendiri. Tujuannya agar kita tahu kapan keluhan cukup dipantau dan kapan tubuh sedang meminta perhatian lebih lanjut.
Daftar Pustaka
- Promosi Kesehatan Tim Kerja Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2026, 26 Juni). Setiap Kanker Payudara Berbeda Kenali Jenisnya untuk Langkah yang Tepat. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 19 Agustus). Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Kanker Payudara. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/657/2026.
- Promosi Kesehatan Tim Kerja Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2024, 16 Januari). Apa itu Dismenorea pada Menstruasi. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Rahayu, V. P. (2022, 23 Juni). Tips Atasi Mood Swing Saat PMS. RS Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Putri, G. (2022, 22 Juli). Perubahan Fisik dan Psikis Pada Ibu Hamil. RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Promosi Kesehatan Tim Kerja Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2024, 19 November). Perubahan Hormonal pada Masa Menopause. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Tim Promkes RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2023, 13 April). Mengenal Apa Itu Keluarga Berencana?. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Darmawanti, B. (2022, 21 Desember). Payudara Nyeri dan ASI Tersumbat? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya. Ayo Sehat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- American Cancer Society. (2026, 23 Juli). Does Breast Pain Mean Cancer ?